(*_*)::::Vera Toha::::(*_*)

Sabtu, 05 November 2011

Imanmu Menyelamatkanmu

oleh Vera Toha pada 05 November 2011 jam 13:33
Semua akan menjadi baik.
Semua selalu menghantarkan hidup pada kepenuhannya.
Sabar sajalah menjalani semua ini dengan tetap melakukan yang bisa dilakukan dengan penuh tanggung jawab.
Hidup adalah perjalanan.
Perjalanan menuju satu arah yaitu kepastian.
Kepastian dalam Tuhan.
Jadi teruslah berjalan.
Akan ada akhir dari semuanya
Termasuk penderitaan dan kesulitan.
Semua akan menjadi baik.
Malam akan berlalu dan berganti pagi dengan hangatnya sinar matahari.
Maka jangan pernah putus asa,
Jangan kehilangan harapan.
Tetaplah berjalan menuju akhir kehidupan dan kita bisa bilang, "Akulah pemenang".
Menang mengalahkan semua beban rintangan dan kesulitan.....
Kita diadakan untuk menjadi pemenang diakhir pertandingan hidup ini..

Maka, jangan pernah berhenti percaya kepada Allah akan hari ini bahwa semua akan menjadi baik penuh kebahagiaan.
Jangan berhenti berharap dan teruslah bersemangat dalam menjalani hari.
Teruslah percaya, berharap dan penuh semangat, yakinlah hidup kita tidak akan pernah sia-sia.
Allah menyertai Anda dan kebaikan akan diberikan kepada Anda.....

"Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama telah berlalu... "
(Why : 21: 4)

Minggu, 30 Oktober 2011

"Saya dan Anda pasti MAMPU"


oleh Vera Toha pada 28 Oktober 2011 jam 21:28
"Apakah aku mampu menyelesaikan semua ini?", Inilah hal yang seringkali muncul dalam benak saya atau mungkin juga Anda alami.

Jujur saya tidak pernah meragukan Allah, hanya kadang meragukan diri karena menghadapi banyak persoalan di depan mata saya berkaitan dengan beban pekerjaan, beban tanggungan, beban diri sendiri dan beban doa juga.
Semua ingin diselesaikan dengan cepat dan dengan pemikiran yang cermat.

Semua terasa berat.
Apakah saya mampu menyelesaikan semua ini????.
Namun,
Dalam saat-saat yang demikian, rasa lelah dan putus asa seringkali muncul dan kadang juga tentu Anda alami.

Lalu apa yang Anda lakukan???

Anda mungkin memiliki cara penyelesaian dengan baik,
Namun,
Saya hanya punya satu cara yaitu,
Duduk diam dihadapan lilin bernyala dan menyerahkan semua kepada Allah dengan satu pikiran, "Tuhan, Kau tahu apa yang aku hadapi dan Kau punya jalan penyelesaiannnya. Aku percaya dan berserah diri sepenuhnya kepada-Mu".
Hal itu yang biasa saya lakukan.

Dalam semua hal,
Tidak semua berjalan baik bahkan saya semakin tertatih-tatih namun ada satu yang indah yaitu saya masih hidup dan kuat menjalani hari demi hari sampai semua terselesaikan sampai pada batas yang semampu boleh saya lakukan.

Jadi,
Apakah saya mampu melakukan semua ini???
Jawabannya adalah,
MAMPU, hanya caranya belum atau berbeda penyelesaiannya dari apa yang sering saya harapkan.

Maka,
Bagi para sahabat yang dalam masalah, kesulitan, kegelapan dan bahkan sekarat.
Percayalah.
Selama saya dan Anda masih hidup dan kuat untuk hidup maka kesulitan akan sanggup dihadapi.

Percayalah....
Allah masih ada disamping kita dan menggandeng tangan kita selama kita masih diberi hidup.

Jadi,
Mari semakin yakin kepada hidup kita dan hidup dalam Allah.
Maka pertanyaan,
Apakah saya mampu menyelesaikan semua ini? Akan terjawab "MAMPU".

Kita mampu menghadapi semua ini....
Percayalah pada Allah karena saya dan Anda pasti mampu menghadapi semua permasalahan dalam hidup ini....

Selamat malam Sobat.
Kita harus kuat dalam hidup....
Yakinlah Allah akan menggenapi janji-Nya,
"Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir jaman... "

"Engkaulah anak anak yang Ku-kasihi"


oleh Vera Toha pada 27 Oktober 2011.
"Aku selalu ada untukmu karena Aku sangat mencintaimu"

Anak-anak-Ku, Aku adalah Tuhan Allahmu yang menciptakan langit dan bumi ini serta mengadakan engkau sebagai penghuni bumi untuk menikmati keindahan langit dan apa yang ada dibawahnya.

Aku mengadakan engkau dengan cinta yang besar sampai separuh hati-Ku ada padamu sehingga engkau secitra, segambar dan serupa dengan Aku.

Aku mengadakan engkau dengan perhitungan paling matang karena sebagian kemampuan-Ku ada padamu yaitu daya pikir-Ku, daya cipta-Ku, kreatifitas-Ku dan kemampuan kognitif-Ku.
Engkau sungguh sangat istimewa karena Aku memberikan sebagian kuasa-Ku pula dan memberi kebebasan yang leluasa bagimu.

Engkau sungguh bisa menentukan sendiri akan dirimu karena kemurahan-Ku.
Maka,
Anak-anak-Ku.
Jadilah lebih dibanding apapun yang aku cintakan di dunia ini.
Jadilah yang utama didalam kancah peri kehidupan alam semesta ini karena engkau adalah anak-anak-Ku yang paling istimewa dan berharga.

Aku selalu ada untukmu karena aku mencintai dan peduli padamu.
Jadi,
Jangan segan datang pada-Ku dalam masa dan keadaan apapun karena Aku ada untukmu.

Ingatlah,
Aku mencintaimu dan tidak berkuasa membencimu.

Jadi Aku ada, ada dan ada hanya untukmu.
Datanglah pada-Ku jika gelisah hatimu.

Aku sangat mencintaimu dan menunggu engkau datang menghampiri-Ku.

Semoga engkau selalu mengandalkan Aku.......karena Aku ada dan sangat mencintaimu... "

Copast from Bro PP

Senin, 24 Oktober 2011

CoPaste from Ricchi Kemphis notes

oleh Vera Toha pada 23 Oktober 2011 jam 8:25

Catatan:
Orang harus kaku soal liturgi. Liturgi itu sudah ada aturan bakunya, tidak seenaknya diubah2. Dan adalah hak kita sebagai awam untuk bisa mengikuti misa yang sesuai dengan aturan liturgi.
Pola pikir Protestan atau yg mirip ama protestant itu jangan sampai dibiarkan terbawa masuk ke dalam Gereja...
Faktanya adalah,
1) Kalau umat lebih suka liburan ke luar kota, jangan ekaristinya yang dipersalahkan--lalu dicari cara-cara gimana supaya ekaristi "menarik". Ini benar-benar pola pikir Protestan, terutama aliran Pentecostal yang : ibadah dibuat semenarik mungkin, karena dari sanalah uang mengalir.

2) Beriman Katolik =/= jualan krupuk di warung. Bukan yang semakin banyak yang ikut yang semakin laris dan semakin bagus. Juga, Gereja Katolik tidak sama dengan partai politik, yang harus mencari cara supaya kelompoknya diikuti oleh banyak orang, supaya jutaan orang berduyun-duyun datang ke KKR atau rapat partai. Tidak. Ibadah ala KKR atau entah apa lagi namanya yang cuma cari sensasi dan banyak para pengikutnya itu bukan puncak inti iman Kristen [yang sejati]. Kalau sampai ada yang berpikir bahwa Gereja Katolik harus melakukan semacam trik KKR ala Benny Hihn dengan poster-poster dan iklan-iklan yang mencolok di sana-sini, maka orang itu KELIRU besar.
3). Tujuan Ekaristi tidak seperti KKR atau ibadah ala Benny Hihn. Benny Hihn boleh malu kalau acaranya cuma didatangi 100 orang (padahal targetnya 100.000 orang, misalnya). Ekaristi adalah ekaristi. Ini acara Tuhan, ini perjamuan Tuhan, bukan rapat partai yang dipimpin oleh seorang pengkhotbah karismatik yang masih butuh tepuk tangan manusia dari para pengikutnya (yang bisa merasa sakit hati jika tepuk tangan yang diterimanya kalah membahana dibandingkan acara sepak bola futsal di gedung sebelah, umpamanya...).

Tidak. Sama sekali TIDAK dengan "T" besar.

Ingat selalu bahwa Ekaristi kudus itu bukan acara KKR ala Benny Hihn atau acara dangdutan dalam kampanye partai politik di kampung-kampung. Ekaristi tidak bisa direkayasa menjadi acara dangdutan ala Benny Hihn. Kalau mau bikin acara band ato dangdutan atau acara a la Benny Hihn-Benny Hihn-an, bukan di paroki Gereja Katolik.


Kutipan dari buku 'The Spirit of the Liturgy' (hal. 198-9) tulisan +Joseph Cardinal Ratzinger, saat menjabat kepala prefek Konggregasi Ajaran & Iman (CDF):
"Tarian bukanlah bentuk ekspresi liturgi Kristen. Benar-benar absurd untuk mencoba membuat liturgi "menarik" dengan tarian, yang sering berakhir dengan tepuk-tangan. Karena KAPAN SAJA terdengar TEPUK-TANGAN pecah di dalam liturgi karena suatu prestasi manusiawi, itulah tanda PASTI bahwa HAKEKAT LITURGI secara TOTAL SUDAH HILANG dan diganti oleh sejenis PERTUNJUKAN ROHANI."

"I am convinced that the crisis in the Church that we are experiencing today is to a large extent due to the disintegration of the liturgy... We need a new liturgical movement" - Cardinal Ratzinger, now Pope Benedict XVI.

Saya yakin bahwa sebagian besar krisis dari dalam Gereja yang kita alami hari ini adalah karena dis-integrasi dari liturgi ... Kita perlu suatu gerakan Liturgis baru" ~ Kardinal Ratzinger, sekarang PausBenediktus XVI

"Some practices which Sacrosanctum Concilium had never even contemplated were allowed into the Liturgy, like Mass versus populum, Holy Communion in the hand, altogether giving up on the Latin and Gregorian Chant in favor of the vernacular and songs and hymns without much space for God, and extension beyond any reasonable limits of the faculty to concelebrate at Holy Mass. There was also the gross mis-interpretation of the principle of 'active participation.' " - Archbishop Malcolm Ranjith (Secretary of the Congregation for Divine Worship)

"Beberapa praktek yang tidak pernah terpikirkan pada Konstitusi Liturgi Sacrosanctum Concilium kini diizinkan masuk ke dalam Liturgi Ekaristi, seperti Misa 'ad populum' (imam menghadap ke arah umat), menerimakan Komuni kudus di tangan, penggunaan pada bahasa Latin dan Gregorian Chant yang kesemuanya itu menyerah dan mengalah buat mendukung penggunaan lagu-lagu dan himne2 vernakular (bahasa dan lagu2 lokal sehari-hari pada suatu daerah tertentu) tanpa banyak ruang lagi yang tersisa untuk Tuhan.


Redemptionis Sacramentum 183

Kalo soal tepuk tangan, soal musik rock, band, soal alat musik daerah atau lagu daerah, salah satu referensi "Inkulturasi dan Liturgi Roma" yang dikeluarkan Kongregasi Penyembahan Ilahi dan Disiplin Sakramen-Sakramen tahun 1994.
"Musical forms, melodies and musical instruments could be used in divine worship as long as they "are suitable, or can be made suitable, for sacred use, and provided they are in accord with the dignity of the place of worship and truly contribute to the uplifting of the faithful."[86]"

Itu tanda angka "86" di sana merujuk ke paragraf 120 dokumen Konstitusi Liturgi "Sacrosanctum Concilium":

120. In the Latin Church the pipe organ is to be held in high esteem, for it is the traditional musical instrument which adds a wonderful splendor to the Church's ceremonies and powerfully lifts up man's mind to God and to higher things.

But other instruments also may be admitted for use in divine worship, with the knowledge and consent of the competent territorial authority, as laid down in Art. 22, 52, 37, and 40. This may be done, however, only on condition that the instruments are suitable, or can be made suitable, for sacred use, accord with the dignity of the temple, and truly contribute to the edification of the faithful.

Dari sana disebutkan par 22, 52, 37 dan 40, aku hanya kutipkan di sini par 22 dan 40:
22. 1. Regulation of the Sacred Liturgy depends solely on the authority of the Church, that is, on the Apostolic See and, as laws may determine, on the bishop.

2. In virtue of power conceded by the law, the regulation of the Liturgy within certain defined limits belongs also to various kinds of competent territorial bodies of bishops legitimately established.

3. Therefore no other person, even if he be a priest, may add, remove, or change anything in the Liturgy on his own authority.
------

How to Avoid Pulgatory

oleh Vera Toha pada 03 November 2010 jam 15:20

Bagaimana Menghindari Api Pencucian ?
Oleh Robertus B. Indra G

Dapatkah Kita Menghindari Api Penyucian ?
Banyak orang berpendapat bahwa hampir tidak mungkin bagi umat Katolik awam untuk menghindari Api Penyucian. Ke sanalah kita semua harus pergi – demikian kata mereka.Akibat dari pendapat yang fatal ini, banyak orang tidak sungguh-sungguh berusaha untuk menghindari Api Penyucian, atau bahkan untuk mengurangi masa hukuman yang harus dijalani di sana.
Fakta memperlihatkan bahwa sejumlah jiwa masuk Api Penyucian dan tinggal di sana untuk waktu yang lama karena mereka tidak pernah diberitahu bagaimana mereka dapat menghindarinya.

Bagaimana Kita Dapat Menghindari Api Penyucian ?
Alasan mengapa kita melewati Api Penyucian sesudah mati adalah karena kita telah berdosa dan belum berbuat silih untuk menghapus dosa tersebut.Setiap dosa harus dibersihkan – dalam hidup sekarang atau kelak ! Tidak ada dosa atau kejahatan sekecil apapun yang dapat masuk ke hadirat Tuhan Yang Maha Suci.Semakin berat dan semakin sering dosa terjadi, akan menjadi semakin panjang masa penyucian dan semakin berat pula hukuman yang harus dijalani.
Itu bukan kesalahan Tuhan, dan bukan juga keinginan-Nya bahwa kita masuk Api Penyucian! Semua itu murni adalah kesalahan kita sendiri.
Meskipun kita berdosa, karena kebaikan-Nya yang tak terhingga, Tuhan masih menawarkan kepada kita cara-cara yang mudah dan efektif untuk mengurangi masa hukuman kita atau bahkan membatalkannya sama sekali.
Kebanyakan kita, dengan kecerobohan yang tidak masuk akal, telah mengabaikan cara-cara ini dan dengan demikian kita harus membayar hutang-hutang kita dalam ruang tahanan Api Penyucian yang menyeramkan.
Adapun cara-cara menghindari Api Penyucian yang dapat kita lakukan, antara lain :
1. Beriman Teguh pada Allah dan Kerahiman-Nya
”Sebab kepada-Mu, ya Tuhan, aku berharap, jangan biarkan aku tersesat,” kata pemazmur (Mzm 30). Tentu saja Dialah yang berkata kepada penjahat yang baik, ”Sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus,” adalah kerahiman dan kemurahan hati Tuhan yang akan kita terima apabila kita percaya kepada-Nya tanpa batas.
St. Fransiskus de Sales (1567-1622) mengakui jika dia hanya berpikir tentang penderitaannya saja, dia pantas masuk Neraka. Akan tetapi, dengan kerendahan hatinya yang besar dia percaya akan kemurahan hati Tuhan dan karena jasa Yesus Kristus, dengan teguh hati dia berpengharapan mendapatkan kebahagiaan kekal bersama jiwa-jiwa yang dipilih Tuhan.
Ketika suatu hari bertemu dengan seseorang yang dihantui dengan ketakutan akan penghakiman Tuhan, St. Fransiskus de Sales berkata kepadanya, ”Seseorang yang dengan tulus hati melayani Tuhan dan menghindari dosa, dialah yang sama sekali tidak membuat dirinya tersiksa oleh bayangan kematian dan penghakiman. Jikalau mereka ketakukan bukanlah dengan ketakukan yang menyedihkan dan melemahkan kekuatan jiwanya, melainkan ketakukan karena percaya. Berpengharapanlah kepada Tuhan, karena bagi dialah yang menaruh pengharapan kepada Tuhan yang tidak akan tersesat.”Yang tidak boleh kita lupakan adalah devosi kepada Kerahiman Ilahi, sebagaimana diperkenalkan oleh St. Faustina (1905-1938). Kita sebagai pendosa mesti mengandalkan pada kemurahan dan kerahiman Tuhan. Tuhan Yesus pernah bersabda kepada St. Faustina, ”Barangsiapa mengandalkan kerahiman-Ku, tidak akan binasa, sebab semua urusannya adalah urusan-Ku sendiri. Jiwa yang mengandalkan kerahiman-Ku paling berbahagia, sebab Aku sendiri yang akan menjaganya.”
”Serukanlah Kerahiman-Ku bagi para pendosa. Aku merindukan keselamatan atas mereka bila hati yang diresapi sikap rendah hati dan iman engkau ucapkan doa ini untuk seorang pendosa, akan Kuberikan kepadanya pertobatan.
Inilah doa itu : Darah dan air, yang telah memancar dari hati Yesus sebagai sumber kerahiman bagi kami. Engkaulah andalanku.”

2. Minta kepada Tuhan
Tuhan akan menganugerahkan segala sesuatu yang kita minta dalam doa apabila permintaan itu baik bagi kita. Ada dua hal yang membuat doa kita menjadi doa yang benar, yakni kesungguhan hati dan iman.
Orang-orang yang kami bicarakan ini berdoa terus-menerus setiap hari agar Tuhan membebaskan mereka dari Api Penyucian. Dalam setiap doa mereka mengucapkan, dalam setiap misa mereka mendengarkan, dalam setiap tindakan mereka memperlihatkan bahwa dengan segenap hati, mereka meminta kepada Tuhan agar meluputkan mereka dari Api Penyucian.
Cara Penyelesaian :
Setiap kali berdoa Salam Maria, mari kita mengucapkan dengan segenap hati: ”Doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin.”

3. Menghilangkan Penyebabnya
Menghilangkan sumber penyebab yang akan mengirim kita ke Api Penyucian, yakni dosa.Tidak mudah untuk mengekang diri dari dosa, yang kecil sekali pun, tetapi setiap Katolik awam dapat berpantang dari dosa berat dengan memanfaatkan sakramen-sakramen. Kedua, kita semua dapat menghindar dari dosa yang disengaja dan serius. Terakhir, kita harus bersungguh-sungguh melepaskan diri dari kebiasaan yang jelek (kebiasaan untuk berdosa).
Cara Penyelesaian :
Setiap kali memanjatkan doa Bapa Kami, ucapkan dengan tegas dan sungguh-sungguh : ”Ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.”

4. Devosi kepada Bunda Maria
Bunda kita yang baik ini pasti akan menolong anak-anaknya yang dikasihi dalam upaya menyucikan jiwa dan memperpendek keberadaan kita di dalam Api Penyucian. Bunda menyatakan kepada hambanya, Hieronimus Carvalho, ”Percayalah, anakku, akulah Bunda dari Dia yang murah hati demi anak-anakku di Api Penyucian, dan juga bagi mereka yang masih hidup di muka bumi.”
Mereka yang memakai skapulir suci mendapat hak istimewa dari perlindungan Bunda Maria. Berbeda dengan Novena Tiga Salam Maria dan devosi Rosario yang berbentuk doa, devosi untuk skapulir suci merupakan latihan rohani. Skapulir Bunda Maria dari Gunung Karmel, asli berasal dari abad ke-13. Skapulir ini pertama kali dikhotbahkan oleh Orang Kudus, Simon Stock (1100-1262), Jenderal Superior ke-5 dari Ordo Gunung Karmel. Ketika masih muda, ia mengasingkan diri ke hutan sunyi untuk berdoa dan menjalankan penebusan dosa. Di sana, ia memilih sebuah pohon berlubang sebagai tempat tinggalnya. Di tempat itu, ia menempelkan salib Yesus dan gambar Perawan Maria yang dihormati sebagai ibunya. Selama 12 tahun, ia memohon dengan sangat agar Bunda menyatakan kepadanya apa yang harus dilakukan. Ratu Sorgawi menyuruh dia masuk Ordo Gunung Karmel, ordo yang secara istimewa menjalankan devosi menjalankan devosi pelayanan Bunda Maria. Dengan perlindungan Bunda, dia menjadi biarawan yang dapat menjadi teladan dan menambah keindahan ordo ini. Dia terpilih menjadi Pemimpin Tertinggi tahun 1245.
16 Juli 1251, Perawan yang Terberkati menampakkan dirinya dengan dikelilingi oleh banyak jiwa-jiwa Sorgawi. Dengan wajah yang bercahayakan kebahagiaan, Bunda Maria menganugerahkan skapulir berwarna coklat. ”Terimalah, anakku yang kukasihi, inilah skapulir dari ordomu. Inilah lambang Persaudaraan Ordoku dan jaminan hak istimewa yang aku peroleh bagimu dan bagi saudara-saudara Gunung Karmel. Siapa saja yang meninggal dengan menggunakan skapulir ini secara benar akan menerima perlindungan dari api abadi. Ini adalah lambang keselamatan, pelindung dari segala malapetaka, jaminan kedamaian dan pelindung istimewa sampai kepada akhir zaman.”
Bunda Maria juga memberikan janji yang lain yaitu, menjamin pembebasan mereka secepatnya dari penderitaan di Api Penyucian. Sekitar 50 tahun setelah kematian Simon Orang Kudus, Yang Mulia Bapa Suci Paus Yohanes XXII, ketika sedang berdoa di pagi hari buta, melihat Bunda Allah menampakkan diri dengan dikelilingi cahaya dan mengenakan skapulir Gunung Karmel. ”Kalau di antara para biarawan atau anggota dari Persaudaraan Gunung Karmel ada yang, karena dosa-dosa mereka, dihukum di Api Penyucian, aku akan turun ke tengah-tengah mereka sebagai seorang Bunda lembut hati yang penuh kasih sayang pada hari Sabtu setelah kematian mereka. Aku akan membebaskan mereka dan mengantar mereka ke gunung kehidupan abadi yang kudus.” Perkataan ini dikenal sebagai Surat Resmi Bapa Paus tertanggal 3 Maret 1322, yang sekarang dikenal dengan Sabbatine Bull.Bunda kita telah memberikan 2 privilese, hak istimewa terhadap pengguna skapulir suci. Pertama, perlindungan. Kedua, penyelamatan.
Yang pertama adalah pembebasan dari hukuman Neraka, ”Barangsiapa meninggal dengan menggunakan skapulir ini tidak akan menderita siksa api Neraka.” Meskipun demikian, jika seseorang meninggal dalam keadaan berdosa, bahkan walaupun memiliki skapulir, tidak akan terbebas dari hukuman. Bunda kita yang baik dengan lembut hati telah memberikan janjinya untuk memberikan segala pertolongan bagi seseorang yang meninggal dengan memakai skapulir akan menerima karunia istimewa bila dengan layak telah mengaku dan menyesali dosa-dosanya. Atau jika ia meninggal mendadak, ia akan mempunyai waktu dan niat untuk melakukan penyesalan dosa.St. Klaudius de la Colombière menceritakan bahwa ada seorang gadis remaja yang mula-mula hidup suci dan memakai skapulir suci. Namun, akibat dari bacaan dan pergaulan yang buruk, dia jatuh ke dalam kekacauan berat dan kehilangan kehormatannya. Bukannya kembali ke jalan Tuhan, dia malah menyerah pada keputusasaannya. Iblis kemudian menganjurkan untuk mengakhiri penderitaannya, yaitu dengan bunuh diri. Dia lari ke sungai sementara dia masih memakai skapulir. Namun, dia tidak tenggelam dan dia tidak dapat menemukan kematian yang dia cari. Nelayan yang melihatnya segera memberikan pertolongan, tetapi ciptaan Tuhan yang malang itu menolaknya. Dia melepaskan skapulirnya, membuangnya jauh-jauh dan kemudian dia tenggelam seketika. Nelayan itu tidak dapat menyelamatkannya, tetapi dia menemukan skapulir itu dan tahu bahwa ketika masih memakai skapulir, berkat pertolongan Allah benda suci itu melindungi pendosa itu dari percobaan bunuh diri. Namun, perlu ditambahkan di sini bahwa skapulir hanyalah sarana agar orang lebih dekat dengan Tuhan dan hidup saleh.
Privilese kedua, Sabbatine atau Penyelamatan yang bisa tercapai karena pembebasan dari Api Penyucian oleh Bunda Perawan Terberkati pada hari Sabtu pertama setelah kematian. Untuk dapat menikmati hak istimewa ini, syarat-syarat tertentu harus dipenuhi. Pertama, memakai skapulir. Kedua, berusaha mencari kesucian diri menurut status hidup tertentu. Ketiga, mendaraskan doa Ofisi Kecil Bunda Perawan Terberkati. Mereka yang tidak dapat membaca harus berpuasa seperti yang dianjurkan Gereja dan berpantang daging pada setiap hari Rabu, Jumat, dan Sabtu sebagai pengganti pendarasan Ofisi. Demikian pula setiap pastor yang berkarya di keuskupan tertentu dapat mengganti syarat ketiga dengan bentuk kesalehan yang lain, misalnya berdoa Rosario setiap hari. Karena besarnya privilese Sabbatine, Ordo Karmel menyarankan bahwa syarat ketiga tidak dapat diubah atau diganti menjadi bentuk kesalehan yang nilainya lebih rendah daripada 7 kali doa Bapa Kami, 7 kali doa Salam Maria, dan 7 kali Kemuliaan yang didaraskan setiap hari.
Jika kita ingat akan apa yang dikatakan tentang Api Penyucian dan lamanya hukuman, kita akan menemukan bahwa hak istimewa inilah yang paling berharga dengan syarat-syarat yang sangat mudah. Di Otranto, ada wanita bangsawan yang mengalami kegembiraan besar ketika mendengar kabar baik ini. Disadarkan oleh keuntungan berharga ini, wanita ini segera memakai skapulir Bunda Perawan Terberkati, dengan teguh hati dan penuh iman memutuskan untuk mematuhi peraturan Ordo Persaudaraan Skapulir. Dia berdoa kepada Bunda siang malam, dia serahkan semua kepercayaannya kepadanya, dan mempersembahkan kepadanya segala kehormatan baginya. Dari antara pertolongan yang dia mohon, dia ingin meninggal hari Sabtu, supaya bisa segera dibebaskan dari Api Penyucian. Doanya didengar. Beberapa tahun kemudian, dia sakit.
”Aku memuji Tuhan, aku berharap segera dipersatukan dengan Dia di Sorga.” Penyakitnya mempercepat kelemahan tubuhnya dan para dokter menyatakan bahwa ia tidak dapat hidup pada hari itu, hari Rabu. ”Lagi-lagi kalian keliru, aku masih akan hidup 3 hari lagi dan tidak akan mati sampai hari Sabtu.” Peristiwa itu membuktikan ucapannya. Memperhatikan hari-hari penderitaannya yang masih dia jalani seolah-olah seperti harta yang tak terduga, dia mengambil keuntungan dari penderitaannya itu untuk menyucikan jiwanya dan meningkatkan manfaat hidupnya. Ketika hari Sabtu, dia menyerahkan jiwanya ke tangan Sang Pencipta.
Anak perempuannya, yang hidupnya juga sangat suci, tidak dapat terhibur atas kesedihannya. Ketika sedang berdoa di ruang doa bagi jiwa ibunya dengan deras mengucurkan air mata, datanglah hamba Tuhan. ”Berhentilah menangis, anakku, biarkanlah kesedihanmu berubah menjadi sukacita. Aku datang untuk membuat kamu percaya, demi nama Tuhan, bahwa hari ini, Sabtu, dengan berterima kasih untuk pervilese, ibumu telah naik ke Sorga dan dipersatukan dengan jiwa-jiwa yang dipilih Tuhan. Terpuji dan terberkatilah Perawan yang Paling Mulia, Bunda Segala Rahmat.”

5. Membuat Silih dengan Amal Kasih
Membuat silih dengan amal kasih sebagai bentuk kemurahan hati. ”Dosanya yang banyak ini telah diampuni,” demikian sabda Tuhan Yesus tentang perempuan berdosa yang mengurapi-Nya (Luk 7:47). ”Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu. Berilah dan kamu akan diberi; sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Luk 6:30,38). Dan Roh Kudus berkata, ”Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah! Tuhan akan meluputkan dia pada waktu celaka.” (Mzm 41:2). Semua kata-kata ini menunjukkan dengan jelas bahwa dengan kasih, silih, murah hati, dan kedermawanan budi yang kita berikan kepada fakir miskin, para pendosa, musuh dan yang menyakiti kita, atau kepada jiwa yang sudah meninggal yang sangat membutuhkan pertolongan kita, maka kita pun akan menerima kemurahan di hadapan takhta Penghakiman Allah yang Mahakuasa.
Penyelamat kita menegaskan semua hal ini, dan lebih jauh, Dia mengatakannya kepada orang-orang Farisi, ”Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu” (Luk 11:41). Alangkah bodohnya si orang kaya itu, yang di tangannya sudah ada cara-cara yang sangat mudah untuk menjamin masa depan kehidupan rohani mereka, namun lalai dalam menggunakannya! Betapa bodohnya mereka karena tidak memanfaatkannya dengan baik kemujuran yang dapat mereka gunakan untuk berterima kasih kepada Tuhan! Betapa bodohnya masuk dan dibakar di dalam api Neraka atau Api Penyucian, dan meninggalkan kesempatan yang baik karena ketamakkannya terhadap harta kekayaan dan menjadi ahli waris yang tidak tahu berterima kasih, dengan harta yang tidak dapat dipakai sebagai doa, air mata, atau bahkan hanya merupakan keberuntungan yang sifatnya sementara bagi yang meninggal! Namun, sebaliknya, betapa bahagianya orang-orang kristen yang mengerti bahwa di hadapan Tuhan, mereka hanyalah penyalur barang-barang yang mereka terima dari tangan Tuhan. Mereka hanya berpikir bagaimana mengatur barang-barang harta kepunyaannya seturut rencana Yesus Kristu, kepada siapa mereka harus berikan. Yang pasti baik adalah mereka yang menggunakan harta kepunyaannya itu, baik materi maupun non materi (bantuan, doa, dukungan, dsb) hanya untuk mendapatkan sahabat, pendamping, dan pelindung kelak di dunia yang kekal abadi!
Bagi St. Theresia, jalan pintas ke Surga adalah melakukan banyak hal-hal kecil dengan hal yang penuh cinta. Tuhan sangat senang dengan pemberian yang sedikit dari seorang janda miskin (bdk. Luk 21:1-4); dan Dia juga pasti akan sama senangnya atas perbuatan kecil kita sebagai tanda silih (ganti).Sebenarnya tidak sulit untuk menyatakan rasa penyesalan atau berbuat silih atas dosa; selain itu sangat berguna dan akan menghantarkan kepada kita kebahagiaan yang luar biasa. Tidak menunjukkan rasa penyesalan adalah merupakan kesalahan yang paling besar.
Selain itu, satu-satunya jalan untuk mempertahankan kesehatan adalah dengan menolak makanan yang lezat apabila makanan tersebut bersifat buruk dan memilih makanan yang menyehatkan. Makan berlebihan merupakan penyebab utama timbulnya sebagian besar penyakit dan kematian dini akibat ketamakan.
Ambil contoh yang lain. Rahasia kesuksesan adalah kerja keras yang terencana dengan baik. Kemurahan hati dan penyangkalan diri adalah bentuk lain dari rasa penyesalan yang murni dan dapat dilakukan. Perbuatan mempertahankan kemauan kita dan melakukan segala sesuatu sesuai kehendak kita, hanya akan membawa kita ke dalam kesulitan, dimana setiap tugas akan menjadi beban, setiap perbuatan baik menjadi sesuatu yang berat dan sulit.Perilaku sehari-hari yang menunjukkan usaha pengekangan diri, kesabaran terhadap orang lain, perbuatan baik kepada orang lain, berkorban untuk kepentingan orang lain, dan penyelesaian tugas dengan baik, merupakan silih yang luar biasa dan alat bantu menuju kebahagiaan.

6. Secara Tulus Membantu Jiwa-jiwa Suci Mempunyai Harapan untuk Terhindar dari Api Penyucian
Jiwa-jiwa Suci yang kita bebaskan atau lepaskan lewat misa dan persembahan, akan berdoa bagi kita dengan kesungguhan yang tak terlukiskan sehingga Tuhan tidak dapat menolak permohonan mereka. Tidak ada seorang pun yang lebih tahu daripada mereka tentang kesakitan yang dirasakan dalam Api Penyucian; dengan demikian tidak ada seorang pun yang dapat berdoa bagi kita sebagaimana yang mereka lakukan.
Cara Penyelesaian:Berdoalah dan persembahkan misa kudus bagi jiwa-jiwa di Api Penyucian. Dan bergabunglah dengan Asosiasi Jiwa-jiwa Suci. Setiap anggota keluarga harus bergabung. Syarat-syaratnya mudah. Jika tidak ada asosiasi ini di Paroki Anda, tulislah kepada salah satu pusat devosi ini, yakni : Association of the Holy Souls, Dominican Nuns of the Perpetual Rosary, Pius XII Monastery, Rua do Rosario 1, 2945 Fatima, Portugal.
Rasul St. Yakobus memberikan sebuah cara lain yang efektif guna menghindari atau mengurangi masa hukuman kita dalam Api Penyucian. Dia berkata : ”Orang yang menyelamatkan satu jiwa, telah menyelamatkan jiwanya sendiri serta membersihkan banyak dosa.”

7. Ordo Ketiga
Di antara karunia-karunia hebat yang dapat kita peroleh dengan menjadi anggota Ordo Ketiga adalah mendapat bagian dalam misa dan doa. Misalnya saja, Paus Benediktus XV yang juga adalah anggotanya : ”Salah satu cara yang paling mudah dan efektif untuk mencapai tingkat kekudusan yang tinggi adalah dengan menjadi anggota Dominikan Ketiga.”
Anggota-anggota ordo ini setiap hari selama hidup mereka menerima bagian dalam ribuan misa dan doa.
Ordo St. Dominikan merupakan ordo yang paling banyak memberikan persembahan kepada Tuhan bagi pada anggotanya yang mati agar jiwa-jiwa mereka dibebaskan dari Api Penyucian.
Syarat-syarat menjadi anggotanya sangat mudah, dan begitu banyak keuntungan yang diperoleh sehingga separuh dunia ini akan menjadi anggota Ordo St. Dominikan jika saja mereka tahu akan keuntungan ini. Tulislah kepada seorang imam Dominikan untuk mendapatkan informasi.

8. Rela Menderita
Ini berarti menjadikannya suatu keharusan, untuk dengan tabah menanggung apa yang tidak dapat kita hindari, karena penderitaan yang dipikul secara sukarela akan terasa mudah dan ringan. Sesungguhnya, penderitaan merupakan karunia Tuhan yang paling besar. Itu merupakan bagian-bagian kecil dari sengsara-Nya yang ditawarkan Tuhan kepada kita, dan kita diminta untuk menanggungnya demi cinta kepada-Nya dan sebagai silih atas dosa-dosa kita. Penderitaan yang dipikul dengan semangat cinta kasih akan mengurangi secara dramatis masa hukuman kita dalam Api Penyucian dan sangat mungkin membatalkannya secara keseluruhan.
Cara Penyelesaian :
Mari kita menanggung penderitaan dalam ketenangan dan kepasrahan demi cinta kita kepada Tuhan. Dengan demikian, kita menyelamatkan diri kita dari Api Penyucian.

9. Sakramen-sakramen
Khususnya Sakramen Mahakudus dan Sakramen Pengurapan Orang Sakit. Sakramen yang kita terima pada saat menderita sakit, yaitu Sakramen Pengakuan Dosa (Rekonsiliasi), yang boleh kita terima secepat mungkin; Misa Orang Sakit atau Misa Menjelang Ajal dan Pengurapan Orang Sakit, yang boleh kita terima dengan segera ketika dalam bahaya maut.
Pengakuan Dosa memoleskan Darah Kristus yang tak ternilai ke dalam jiwa kita, menghapus dosa-dosa kita, menerangi mata kita untuk melihat kejahatan yang diakibatkan oleh dosa, dan di atas segalanya, memberikan kita kekuatan untuk menghindarinya.
Dalam Komuni Kudus (dalam Misa Orang Sakit), kita menerima Tuhan yang penuh dengan belas kasih dan cinta, Tuhan dari para kudus, yang datang untuk mengampuni dosa kita dan membantu kita agar tidak berbuat dosa lagi. Namun, sayangnya, banyak orang tidak menangkap sukacita dan penghiburan luar biasa yang diberikan oleh Komuni Kudus.
Melalui pewahyuan, Tuhan menyampaikan kepada St. Alfonsus Ligouri (1696-1787), bahwa apabila si penderita sakit menerima sakramen lebih cepat, dia akan dipulihkan kesehatannya. Namun, nilai yang paling berharga dari Sakramen Pengurapan Orang Sakit ialah manfaatnya yang besar bagi jiwa orang yang meninggal. Sakramen ini membersihkan dia dari sisa-sisa dosanya dan menghapus atau setidaknya mengurangi dosa-dosanya untuk hukuman sementara. Sakramen ini membuat jiwa orang yang sudah meninggal, teguh dalam menghadapi penderitaan yang kudus. Sakramen ini memberikan kepenuhan kepercayaannya kepada Tuhan dan menolongnya untuk menerima kematian dari tangan-Nya dalam persatuan dengan kematian Yesus Kristus.
Sakramen ini adalah Pengampunan Terakhir, yang menurut St. Thomas dan St. Albert diadakan secara khusus oleh Tuhan untuk mengaruniakan kepada kita kematian yang kudus dan menyenangkan, dan untuk mempersiapkan kita memasuki Surga dengan segera.
Maka itu, alangkah bodohnya bila kita menunda penerimaan sakramen ini hingga menjadi terlambat pada saat orang sekarat itu sudah terlalu lemah untuk dapat menerimanya dengan penuh kesadaran atas apa yang dilakukannya. Saat kematian merupakan saat genting dalam hidup kita. Itu merupakan saat yang menentukan nasib kita untuk Keabadiaan.

10. Indulgensi
Indulgensi adalah penghapusan siksa-siksa sementara di depan Allah untuk dosa-dosa yang sudah diampuni. Tuhan, dalam belas kasih dan cinta-Nya yang tak terhingga, menawarkan kepada kita suatu cara yang indah dan mudah untuk mengurangi atau membatalkan masa hukuman dalam Api Penyucian. Ia menawarkan kepada kita indulgensi yang berlimpah-limpah sebagai imbalan atas sedikit saja devosi yang kita berikan.
Indulgensi sebagian membebaskan seseorang dari sebagian hukuman sementara karena dosa (hukuman yang mesti dijalani, baik di dunia ini meupun di Api Penyucian); dan Indulgensi Penuh membebaskan orang dari hukuman sementara secara penuh karena dosa. Baik indulgensi sebagian maupun penuh dapat diperuntukkan bagi orang yang sudah meninggal atau yang masih hidup. Namun, mesti diingat, bahwa doa dan amal kasih lebih berharga daripada indulgensi sendiri. Untuk mendapatkan indulgensi, seseorang harus sudah dibaptis, tidak dalam keadaan dikucilkan oleh Gereja, dan dalam keadaan berahmat.
a. Bagaimana mendapatkan Indulgensi Penuh ?
Agar mendapatkannya, seseorang harus menjalankan kewajiban yang telah ditetapkan (misalnya berdoa Rosario); memenuhi 3 syarat, yaitu Sakramen Pengakuan Dosa, menerima Komuni Kudus dalam Ekaristi, dan berdoa untuk Bapa Suci (dapat dilakukan dengan 1 kali Bapa Kami dan 1 kali Salam Maria). Orang tersebut harus bebas dari segala dosa, termasuk dosa ringan. Jika 3 syarat tidak terpenuhi dan keadaan orang tersebut tidak benar-benar bersih dari dosa, maka hanya mendapatkan indulgensi sebagian. Berkaitan dengan syarat Sakramen Pengakuan Dosa, Komuni Kudus, dan berdoa untuk Bapa Suci dapat dipenuhi beberapa hari sebelum atau sesudah melakukan kewajiban yang telah ditetapkan. Namun, lebih baik Komuni Kudus dan doa untuk Bapa Suci dilakukan pada hari yang sama ketika menjalankan kewajiban (misalnya berdoa Rosario).
Ada 4 cara untuk mendapat indulgensi penuh :
Pertama, indulgensi penuh diberikan kepada orang beriman Katolik yang mengunjungi Sakramen Mahakudus dan mengadakan sembah bakti atau pujian setidaknya 1 ½ jam.
Kedua, indulgensi penuh diberikan kepada orang beriman Katolik yang membaca Kitab Suci dan merenungkannya sebagai Sabda Ilahi minimal ½ jam.
Ketiga, indulgensi penuh diberikan kepada orang beriman Katolik yang menjalankan doa Jalan Salib. Doa ini dilakukan di depan perhentian Jalan Salib yang dibuat secara resmi. Orang-orang yang berhalangan untuk melakukan Jalan Salib dapat memperoleh indulgensi penuh dengan membaca dan merenungkan kisah sengsara dan kematian Kristus minimal ½ jam.
Keempat, indulgensi penuh diberikan kepada orang beriman Katolik yang mendaraskan Doa Rosario minimal lima puluhan Salam Maria disertai dengan meditasi penuh bakti 4 misteri (gembira, terang, sengsara dan mulia). Tempat untuk berdoa bisa di gereja, tempat ziarah, rumah atau keluarga, komunitas, kelompok persekutuan, dll.

b. Indulgensi penuh pada saat meninggal
Orang beriman Katolik yang berada dalam bahaya maut, yang tidak mendapatkan pelayanan sakramen dari pastor dan menyatukan Berkat Apostoliknya dengan indulgensi, Bunda Gereja yang Kudus tetap memberikan indulgensi yang diberikan pada saat ajal. Syarat yang diperlukan adalah bahwa orang tersebut dalam keadaan yang pantas dan mempunyai kebiasaan doa yang baik. Penggunaan salib sangat dianjurkan untuk mendapatkan indulgensi ini. Syarat bahwa orang tersebut mempunyai kebiasaan berdoa yang baik memenuhi 3 hal yang dibutuhkan untuk mendapat indulgensi penuh. Indulgensi penuh menjelang ajal dapat diperoleh meskipun orang tersebut telah mendapatkan indulgensi penuh yang lain pada hari yang sama.

c. Bagaimana mendapatkan indulgensi sebagian ?
Pertama, mengarahkan hati kepada Tuhan dengan iman yang teguh, mendaraskan doa-doa kepada-Nya meskipun hanya dalam batin.Untuk setiap doa spontan yang singkat, Dia memberikan indulgensi sebanyak 100 atau 300 hari atau lebih. Dan ini dapat kita lakukan ratusan kali dalam sehari. Mereka yang mengucapkan doa : ”Hati Kudus Yesus, aku percaya kepada-Mu” sebanyak 100 kali sehari akan memperoleh 30.000 hari indulgensi.Tidak ada yang lebih mudah daripada menjadikan suatu kebiasaan untuk mengucapkan doa-doa kecil ini sepanjang hari, tak terhitung jumlahnya setiap hari. Kemudian, untuk setiap Salam Maria dalam Doa Rosario, seseorang memperoleh lebih dari 2.000 hari indulgensi ! Atau dengan :”Tuhanku, aku mengasihimu””Yesus””Semua untuk kemuliaan-Mu, Tuhan””Datanglah kerajaan-Mu””Yesus, Maria, Yosef, selamatkanlah jiwa-jiwa””Yesus, Engkaulah andalanku””Hati Yesus, kupercaya kepada-Mu””Terjadilah kehendak-Mu””Hati Maria tanpa noda, doakanlah kami sekarang dan pada waktu kami mati. Amin””Hati Yesus yang Mahakudus, kasihanilah kami””Ya Tuhan, tambahkanlah iman kami””Ya Tuhan, kasihanilah kami orang berdosa””Engkaulah Kristus, Anak Allah yang hidup””Hati Maria yang termanis, jadilah keselamatanku””Bunda Maria, doakanlah kami”Doa-doa singkat tersebut mesti disesuaikan dengan kegiatan dan keadaan hati masing-masing orang. Doa-doa ini dapat juga ditujukan kepada jiwa-jiwa di Api Penyucian yang dapat menghantar mereka ke Sorga. Mereka akan menyembah dan memuji Tuhan serta berdoa untuk orang-orang yang mendoakan mereka yang masih berada di dunia.
Kedua, memberikan diri atau milik kita untuk pelayanan orang-orang yang membutuhkan. Tidak setiap perbuatan mendatangkan indulgensi, tetapi hanya tindakan yang dimaksudkan untuk melayani orang-orang yang membutuhkan makanan, pakaian, dan keselamatan jiwanya. Perbuatan cinta kasih semacam ini amat berkenan di hati Tuhan, serta membawa berkat bagi mereka yang dilayani dan mendatangkan pengurangan hukuman sementara atas dosa yang sudah diampuni.
Ketiga, indulgensi sebagian diberikan kepada orang beriman Katolik yang dengan kehendaknya sendiri dan semangat berbuat silih, bebas dari pamrih dan usaha menyenangkan diri sendiri. Dengan semangat itu, orang beriman didorong untuk tidak mementingkan dirinya, namun menyesuaikan dirinya dengan kemiskinan dan penderitaan Kristus. Penyangkalan diri semacam ini jauh lebih berharga bila disatukan dengan kasih dan kegembiraan.
Selain 3 cara umum tersebut di atas, The Enchridion of Indulgences mendaftar doa-doa khusus dan karya amal yang dapat mendatangkan indulgensi sebagian, yaitu :
1. Doa Iman, Doa Cinta, Doa Harapan, dan Doa Tobat. Puji Syukur no. 21,22,23/24,25/26.
2. Mengadakan kunjungan dan pujian kepada Sakramen Mahakudus.
3. ”Kami bersyukur kepada-Mu ya Tuhan, Allah yang Mahakuasa atas semua yang baik yang Kautunjukkan kepada kami. Engkau yang hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang masa. Amin”
4. Malaikat Allah, Engkau diutus untuk melindungi aku. Lewat dirimu, cinta Tuhan sampai kepadaku. Dampingilah aku, kuasailah aku, bimbinglah aku.”
5. berdoa Ratu Sorga (pada masa Paskah Regina Coeli), Puji Syukur no. 16
6. Berdoa Jiwa Kristus, Puji Syukur no. 212
7. Pergi ke makam untuk mendoakan (juga seandainya hanya dalam batin) orang-orang yang sudah meninggal dunia, khususnya jiwa-jiwa di Api Penyucian.
8. Berdoa Aku Percaya (Syahadat Para Rasul).
9. Belajar atau mengajar doktrin Kristen.
10. Mendaraskan Doa di Hadapan Salib di depan gambar atau salib Yesus setelah menerima Komuni Kudus.
11. Mendaraskan Doa Pendamaian (”Yesus yang manis, yang melimpahkan kasih-Nya pada orang memohon pengampunan…”). Indulgensi penuh diberikan kepada orang beriman jika doa tersebut didoakan pada Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus (30 Mei).
12. Mendaraskan Doa Persembahan Umat Manusia kepada Kristus Raja (”Yesus yang mahamanis, Penyelamat umat manusia…”). Indulgensi penuh diberikan kepada orang beriman jika doa tersebut didaraskan pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam (23 November).
13. Mendaraskan Litani Nama Yesus, Litani Hati Kudus Yesus, Litani Darah Tuhan kita Yesus Kristus yang amat berharga, Litani Perawan Maria terberkati, Litani Santo Yusuf, Litani Para Kudus (Puji Syukur no. 208, 209, 214, 219, 128, dll).
14. Mendaraskan Kidung Maria (”Jiwaku memuliakan Tuhan…”). Puji Syukur no. 18.
15. Mendaraskan Memorale (”Ingatlah ya Perawan Maria yang penuh rahmat…”).
16. Doa Batin.
17. Memiliki dan menghormati benda-benda devosi seperti salib yang berkorpus, rosario, medali, skapulir, yang semuanya telah dimintakan berkat pastor.
18. P: Marilah kita mendoakan Bapa Suci…U : Semoga Tuhan menjaga, memberikan hidup serta menjadikan berkat di bumi serta dibebaskan dari segala yang jahat.
19. Mendengarkan homili.
20. ”Ya Tuhan, semoga dia (mereka) memperoleh istirahat kekal. Dan sinarilah mereka dengan cahaya abadi (cocok untuk jiwa-jiwa di Api Penyucian)”.
21. Berdoa Rosario secara pribadi. Anda perlu menambahkan meditasi dan doa-doa spontan.
22. Membaca Kitab Suci sebagai bacaan rohani dengan sembah bakti dan kepatuhan terhadap Sabda Allah.
23. Mendaraskan Salve Regina (”Salam ya Ratu Sorgawi…”).
24. Membuat Tanda Salib dengan mengucapkan kata-kata secara khidmat, ”Dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Amin.”
25. Mendaraskan Tamtum Ergo (”Mari bersembah sujud…”) :”Sakramen seagung ini, kusembah dan kupuji; Cara lama telah ganti, telah diperbaharui; Iman yang menolong budi, indra tak mencukupi. Yang Berputra serta Putra, dipujilah bersama; Salam sembah dan kuasa, serta hormat kepada-Nya; yang timbul dari duanya, pujian setara. Amin.
I : Engkau telah memberi kami Roti Surgawi, U : Yang mengandung segala kesegaran. I : Marilah berdoa:Ya Tuhan, Engkau telah meninggalkan kenangan akan kesengsaraan-Mu dalam Sakramen yang mengagumkan ini. Kami mohon semoga kami dapat menghormati Tubuh dan Darah-Mu sedemikian, sehingga kami selalu dapat menikmati buah dari Penebusan-Mu. Sebab Engkaulah yang hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang masa. Amin.
26. ”Datanglah ya Roh Kudus. Penuhilah hati umat-Mu dan nyalakanlah di dalamnya dengan api cinta-Mu.”
27. Memperbarui janji baptis dengan menggunakan rumusan yang biasa dipakai. (Indulgensi penuh diberikan jika janji baptis dilaksanakan pada Malam Paskah atau ulang tahun pembaptisan).
Cara Penyelesaian :
Mari kita berjuang untuk memperoleh segala macam Indulgensi yang dimungkinkan.

11. Menerima Kematian dengan Pasrah
Beberapa Orang Kudus mengatakan bahwa ketika penderitaan sakit menyadari bahwa ajal sudah dekat dan mereka menawarkan kematiannya kepada Tuhan dengan penyerahan yang sempurna, maka sangat mungkin bagi mereka untuk masuk langsung ke Surga.
Kematian adalah hukuman yang mengerikan atas dosa; namun bila kita menerimanya sebagaimana mestinya, dengan kepasrahan dan penyerahan,maka tindakan kita ini akan membuat Tuhan begitu senangnya sehingga semua dosa kita diampuni-Nya.
Demikian halnya pandangan Paus St. Pius X, ketika dia menganugerahkan indulgensi penuh pada saat kematian kepada orang-orang yang mengucapkan doa berikut ini setelah menerima Komuni Kudus: ”Bapa Abadi, mulai hari ini, saya menerima dengan sukacita dan hati yang pasrah, kematian yang Engkau kirimkan kepadaku karena itu menyenangkan-Mu, dengan segala kesakitan dan penderitaannya.”
Dan akan lebih baik lagi apabila kita mengucapkan doa ini setiap kali kita menerima Komuni Kudus.
Cara Penyelesaian :
Setiap kali mengucapkan doa Bapa Kami, ucapkan dengan kesungguhan yang istimewa kata-kata : ”Jadilah kehendak-Mu!”. Dalam segala masalah yang dihadapi, besar maupun kecil, mari kita melakukan hal yang sama.
Ketidakpedulian dan sikap acuh tak acuh para umat Katolik adalah kejahatan yang paling kejam hari ini ! Merupakan tanggung jawab seluruh umat Katolik untuk menyebarkan ribuan brosur yang beraneka ragam dengn kobaran semangat yang tinggi. Jika tidak, semua ini sia-sia belaka.
Setiap brosur atau selebaran membawa pesan yang langsung masuk ke dalam hati pembacanya, membangunkannya, meyakinkannya, dan mendorongnya untuk mengambil tindakan.

Diambil dari :”Bagaimana Menghindari Api Penyucian”,terjemahan buku berjudul HOW TO AVOID PURGATORY karangan Fr. Paul O’Sullivan, O.P. (E.D.M) oleh Erni Djohan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia dengan ijin dari Saint Martin Apostolate, Dublin, Irlandia. @ Marian Centre Indonesia (MCI – Seri 5)“7 Cara Hindari Api Penyucian”Kesaksian Otentik Pujangga Gereja dan Para KudusOleh: F.X. Schouppe, SJ “Doa Senakel, Gerakan Imam Maria”Oleh: Marian Centre

Sebuah Refleksi Terhadap "Curi Domba"

oleh Vera Toha pada 24 Oktober 2010 jam 0:27

SANTO THOMAS MORE (1478-1535) : Sebuah Refleksi terhadap "Curi Domba"
Oleh Doa dan Ucapan Syukur Kemarin jam 23:14

Kesuksesan, kegemilangan, kedudukan tinggi menjadi orang kedua setelah raja, dan kekayaan yang berlimpah, tidak membuat seorang Thomas More menjadi silau... Ketika dia dihadapkan pilihan... Dengan rahmat Tuhan, dia telah melepaskan segala sesuatu demi cintakasihnya kepada Kristus dan Gereja Katolik.

St. Thomas More seorang kudus dari kerajaan Inggris, merupakan salah satu dari deretan para kudus awam. Prestasinya yang gemilang dalam study, membuat dia menjadi seorang pengacara dan penulis terkenal di kerajaan Inggris... Tidak hanya itu rupanya kesuksesan dan keberuntungan menyertai dia, sampai akhirnya dia diangkat sebagai penasihat Raja (Lord High Chancellor) oleh raja Henry VIII, atau istilah lain menjadi perdana menteri, orang kedua tertinggi di kerajaaan Inggris. Kedekatannya dengan raja, sering digambarkan bagaimana raja Henry VIII sering melingkarkan tangannya di bahu Thomas More.

Tetapi semua pencapaian itu tidak membuat Thomas More menjadi terlena... Sebagai anggota ordo ketiga Fransiskan... Dia selalu berusaha menghayati kehidupannya, baik sebagai perdana menteri, sebagai kepala keluarga, lebih-lebih sebagai pengikut Kristus, sebagai seorang Katolik.

Sebagai kepala keluarga, dia bersama istrinya dikaruniai 4 anak.. Sayangnya karena penyakit, istrinya meninggal dalam usia muda.. Kemudian dia menikah dengan seorang janda.. Dan mereka menghayati hidup keluarga mereka di dalam kasih Kristus sendiri.

Sebagai pengikut Kristus, di tengah segala kesibukannya, pada malam hari Thomas More banyak mempersembahkan waktunya untuk doa pribadi. Dia membangun kapela pribadi di rumahnya, agar sewaktu-waktu dia dapat hadir di hadapan Tuhan. Di Gereja pun dia aktif melayani sebagai asisten imam. Dan dia pun aktif membuat tulisan-tulisan rohani.

Suatu ketika ada orang yang memberi masukan kepadanya, bahwa sebagai seorang awam tidak mungkinlah bagi dirinya untuk melaksanakan tugas-tugas dunia yang sedemikian banyak dan kompleksnya, dan pada saat yang sama menekuni hidup rohani guna mencapai kesucian. Menanggapi masukan itu Thomas More mengatakan, bahwa Komuni Kudus-lah yang membuat dirinya tetap fokus dan untuk meringankan beban-beban pekerjaannya, dia akan mendekat kepada Juru Selamat-Nya, memohon terang dan bimbingan daripada-Nya. Yesus Kristus adalah kekuatan dan andalannya.

Pada suatu hari, ketika Thomas More sedang menghadiri Misa Kudus seorang petugas istana mendekatinya dan berbisik kepadanya: “Tuanku, Sri Paduka Raja menginginkan agar Tuanku menghadapnya dengan segera.” Thomas More menjawab: “Aku tidak dapat menghadap sekarang. Katakanlah kepada Sri Paduka Raja, bahwa aku sedang menghadap seorang Raja yang lebih besar daripadanya. Begitu tugas-kewajibanku kepada Raja yang lebih besar ini selesai, aku akan langsung menghadap Sri Paduka Baginda.” Petugas istana itu pun pergi dan Thomas More, sang Lord High Chancellor, melanjutkan doa-doanya dengan khusyuk sampai Misa Kudus berakhir.

Suatu ketika Raja Henry VIII ingin menceraikan permaisurinya dan ingin menikahi seorang dayang-dayang, Anna Boleyn. Raja meminta ijin kepada Sri Paus. Tentu serta-merta permintaan ini ditolak. Akhirnya Henry VIII memberontak dan mengangkat dirinya menjadi pimpinan tertinggi Gereja Inggris, yang kita kenal sekarang sebagai Gereja Anglikan. Mulai saat itulah Gereja Katolik Inggris mengalami penganiayaan, siapa yang mau ikut Raja menjadi Anglikan maka akan aman, tetapi yang mau tetap setia pada Gereja Katolik akan dianiaya. Banyak di kalangan klerus, religius dan awam, karena takut mati, mereka memilih taat kepada raja. Tetapi tidak sedikit, yang tetap setia kepada Sri Paus, setia kepada Gereja Katolik... Dan akhirnya dibunuh sebagai martir... Contoh yang terkenal St. Johannes Fischer, seorang uskup dan martir... Tetapi bagaimana dengan 'tangan kanan' raja?

Thomas More tahu benar bahwa perbuatan rajanya itu tidak sesuai dengan kehendak Allah. Rajanya hanya mengikuti dorongan hawa nafsu dan akhirnya memberontak kepada Sri Paus serta memisahkan diri dari Gereja Katolik.
Sebagai abdi raja, dia sadar pertama-tama dia adalah Abdi Kristus, Raja di atas segala raja... Berbagai bujukan dan rayuan tidak membuat Thomas More bergeming... Dia memilih Kristus... Dia memilih Gereja Katolik... Dia memilih kebenaran...

Dalam penjara pun, istrinya disuruh membujuk dia... Cara halus tidak mempan, maka mulai digunakan cara lain... Raja terus mengulur waktu, bahkan menyiksa dengan cara perlahan-lahan, dengan harapan 'orang kepercayaannya' ini tidak tahan dan akhirnya menyerah kepadanya. Tetapi tentunya semua itu semakin menambah penderitaan dan siksaan Thomas More... Tetapi Thomas More menanggung semua itu dengan rela, demi cintakasihnya kepada Kristus dan GerejaNya.

Sampai akhirnya habis kesabaran raja... Thomas More dipancung... Sebelum dipancung, Thomas More sempat bergurau dengan algojo: "Jangan terkena janggutku, karena janggutku tidak bersalah apa-apa kepada raja"

Akhirnya St.Thomas More mengenakan mahkota kemartiran, dia telah melepaskan segala-galanya untuk bersatu dengan Kristus yang tersalib, hingga akhirnya mengalami kebangkitan bersama Dia. St.Thomas More adalah teladan iman kepada Kristus dan kesetiaan kepada Gereja Katolik.


”CURI DOMBA” : Realitas Penyebrangan Umat Katolik ke Gereja Lain

Dalam masa penganiayaan terhadap Gereja Katolik di kerajaan Inggris... mungkin sebagian pihak akan berpikir... ya kalau harus pindah ke Anglikan, Yesusnya kan sama, hanya beda pimpinan gereja... dulu Sri Paus sekarang Raja Inggris... Tetapi bagi St. Thomas More dan martir-martir dari Inggris, mereka lebih rela mati menjadi martir demi iman kepada Kristus dan kesetiaan kepada Gereja Katolik.

Dewasa ini umat Katolik pun tetap menghadapi pilihan-pilihan, mungkin tidak sampai dihadapkan pilihan seperti yang dihadapi St. Thomas More... yang akhirnya memilih mempertaruhkan segala-galanya bahkan sampai mempertaruhkan nyawa...

Dan ketika menghadapi pilihan ini... Tidak sedikit yang setia berpegang teguh pada iman Katoliknya... Tetapi selalu ada realitas, orang akan meninggalkan iman Katoliknya demi kepentingan lain... Contoh yang paling sering terjadi : penyebrangan-penyebrangan ke denominasi/ sekte gereja lain…..

Secara pribadi, dari masa SMA sampai kuliah, paling sedikit ada sembilan teman yang saya kenal menyebrang ke gereja lain….. beberapa di antaranya kita sempat ‘ngobrol’ bareng, apa sih alasan menyebrang ke kelompok lain? Pada umumnya karena mulai meragu-ragukan kebenaran iman Katolik, sebagai akibat dari seringnya menghadiri pertemuan-pertemuan doa denominasi lain dan ‘tidak kuat’ menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang berisi serangan-serangan terhadap iman Katolik.

Memang Gereja Katolik selalu merindukan persatuan seluruh Gereja dan mendorong semangat ekumenisme, sebagai umat Katolik kita pun hendaknya mempunyai semangat yang sama. Tetapi dalam pelaksanaan, hendaknya betul-betul dipahami semangat ekumenisme yang benar dan sehat, serta tetap memperhatikan prinsip-prinsip ajaran iman Katolik.

Karena kenyataan yang kita hadapi sekarang ini, kita sering menghadapi sekte-sekte atau denominasi tertentu yang bersikap agresif dan selalu menyerang terhadap iman Katolik, bahkan juga di kalangan kelompok yang menyebut dirinya ekumene.

Seringkali mereka ini mempunyai strategi yang sama : pada awal mula mereka akan terus mengajak umat Katolik datang ke acara-acara di gereja mereka dengan alasan klise… “Kan Yesusnya sama, jadi sama saja kalau datang ke tempat kami”, dsb.
Dari sini akan terus berusaha mengajak, sampai akhirnya seringkali karena sungkan, keingintahuan, dsb; kita menanggapi undangan mereka. Nah, begitu mulai ‘rajin jajan’ kita akan mulai menghadapi, baik dalam kotbah ataupun pendekatan pribadi pertanyaan-pertanyaan yang bersifat menyerang terhadap iman Katolik : tentang Maria, para kudus, mendoakan arwah, api pencucian, Paus, Ekaristi, dsb… dsb…

Saya sendiri punya pengalaman pribadi, yaitu waktu SMA saya ditugaskan menjadi ketua persekutuan doa Katolik. Sekolah kami sekolah negeri, dan saya juga harus menghadapi hampir setiap hari saat jam istirahat, teman-teman yang aktif di kepengurusan persekutuan doa protestan… yang selalu terus-menerus mempersoalkan iman Katolik… saya juga menghadapi salah satu teman Katolik akhirnya pindah Gereja, karena serangan-serangan itu. Ketika saya coba untuk mendekati dia, malah dengan pahit dia merasa telah mengikuti gereja yang salah dan ikut-ikutan menyerang iman Katolik… Dihadapkan situasi ini, saya merasa perlu belajar tentang iman Katolik, puji Tuhan waktu-waktu itu mulai diterbitkan edisi pertama buku “Mempertanggungjawabkan Iman Katolik 1”, tulisan Rm. Pidyarto, O.Carm. Di sini saya bersyukur atas penyelenggaraan Tuhan, di balik serangan-serangan itu, Tuhan melindungi, bahkan membimbing saya untuk berusaha mempelajari dan memahami iman Katolik.

Fenomena yang terjadi di Indonesia ataupun di beberapa negara ini, agak berbeda dengan yang terjadi di beberapa negara barat. Beberapa tahun lalu, majalah TIME menerbitkan edisi dengan cover bergambar icon bunda Maria mengendong kanak-kanak Yesus, dalam edisi itu dibahas khusus “Mengapa pendeta-pendeta Protestan di USA mulai menemukan kembali iman untuk menghormati bunda Maria?”.

Kemudian kita lihat banyak tokoh-tokoh seperti Scott & Kimberly Hahn, David Cure (seorang pendeta fundamentalis menjadi Katolik), Marilyn Kramer, dsb… dengan latar belakang keinginan untuk mencari titik lemah dalam ajaran Katolik supaya mereka bisa lebih banyak lagi ‘mempertobatkan’ umat Katolik, mereka mempelajari iman Katolik dari dokumen-dokumen Gereja… sampai akhirnya mereka menarik kesimpulan ajaran iman Katolik sungguh-sungguh sesuai Kitab Suci dan mereka menemukan kebenaran dan wahyu Kristus yang sempurna ada dalam Gereja Katolik.

Fenomena lain, yaitu adanya saudara-saudari Protestan yang menemukan kembali kehidupan membiara sebagai suatu panggilan khusus untuk mempersembahkan seluruh hati dan hidup kepada Kristus. Selama berabad-abad Gereja Protestan menolak segala bentuk kehidupan biara. Tetapi salah satu tokoh Gereja Lutheran, Mother Basilea Schlink (1904-2001) digerakkan oleh Roh Allah untuk mendirikan biara suster Protestan yang dibaktikan ke dalam perlindungan bunda Maria, komunitas suster Protestan ini bernama “Evangelical Sisterhood of Mary”. Komunitas ini berdiri 30 Maret 1947 di Darmstadt, Jerman.

Kemudian yang terkenal, sebuah biara ekumene yang terdiri dari bruder-bruder Protestan dan Katolik, dimana mereka menghayati spiritualitas Fransiskan, yaitu komunitas Taize di Perancis. Didirikan oleh bruder Roger Schultz (1905-2005), seorang Protestan, yang terpanggil untuk mendirikan komunitas ekumene. Komunitas Taize ini sungguh komunitas ekumene yang ideal, walaupun berbeda antara Katolik dan Protestan, tetapi bruder-bruder ini bisa hidup berdampingan dalam damai dan kasih Kristus.

Sayangnya untuk situasi di Indonesia, dengan adanya denominasi yang agresif dan menyerang, situasi ekumene yang sehat dan ideal belum dapat terwujud... karena banyak umat Katolik yang menjadi korban “curi domba” dan terjadi penyebrangan-penyebrangan dari umat Katolik ke gereja lain sampai saat ini. Maka sebagai antisipasi, tindakan pencegahan/ preventif jauh lebih baik daripada kalau sudah terlanjur menyebrang.

Tindakan pencegahan itu dapat dilakukan dengan berusaha mempelajari dan mendalami iman Katolik sendiri, mengembangkan bidang ilmu apologetika, yaitu bidang ilmu yang berusaha mempertanggungjawabkan iman Katolik untuk menghadapi serangan-serangan itu.

Kemudian hal penting lainnya: menghindari pertemuan doa, seminar, pengajaran, KKR, dsb dari gereja lain. Demikian juga menghindari siaran-siaran televisi, radio atau bacaan buku-buku gereja lain, yang tentunya semua itu ada perbedaan teologi dan seringkali iman Katolik juga diserang (Kecuali untuk tujuan study tertentu yang dilakukan oleh orang Katolik yang sudah mempunyai pendasaran teologi Katolik dan untuk kepentingan pekerjaan, misalnya : persekutuan doa di kantor, dsb).

Menghindari pertemuan semacam ini tidak berarti umat Katolik tidak mempunyai semangat ekumene. Semangat ekumene tetap harus ada, tetapi sebatas misalnya kegiatan sosial karitatif secara bersama, atau perayaan-perayaan Natal atau Paskah bersama.

Kembali ke St.Thomas More, betapa kita sebagai umat Katolik dipanggil untuk sungguh-sungguh mensyukuri dan menghargai iman Katolik yang dianugerahkan Kristus kepada kita. Jika dia yang adalah perdana menteri, tetapi rela melepaskan jabatannya dan mati demi Kristus dan gereja Katolik, lalu siapakah kita ini ?!?
Santo Thomas More..... doakanlah kami. Amin (Effendy T)

Selasa, 02 Agustus 2011

Mukjizat2 Ekaristi


oleh Vera Toha pada 05 Januari 2011 jam 23:53
Mukjizat Ekaristi
Oleh Pd Rhema Hari ini jam 1:14

Mukjizat Ekaristi
Kisah-kisah singkat tentang mukjizat Ekaristi berikut ini disampaikan untuk meneguhkan iman kita akan Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Sakramen Mahakudus. Namun demikian, bagi mereka yang tidak percaya, tidak akan ada penjelasan yang dapat meyakinkan mereka. Sebaliknya, bagi mereka yang percaya, tidak akan ada penjelasan yang diperlukan lagi.

LANCIANO, sekitar 700 M

Lanciano adalah sebuah kota kecil di pesisir Laut Adriatic di Italia. Lanciano berarti “tombak”. Menurut tradisi, Santo Longinus, prajurit yang menikamkan tombaknya ke lambung Yesus hingga mengalir Darah dan Air (Yoh 19:34), berasal dari Lanciano. Longinus bertobat setelah peristiwa penyaliban dan di kemudian hari wafat sebagai martir demi imannya.

Pada masa terjadinya mukjizat Ekaristi ini, suatu bidaah (ajaran sesat) menyebar dalam Gereja menentang ajaran tentang Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi. Dalam hati seorang imam timbul keragu-raguan dan keragu-raguannya itu semakin lama semakin kuat. Suatu pagi, saat Konsekrasi dalam perayaan Misa, tubuhnya gemetar dan berguncang hebat. Di hadapan umat, ia menunjukkan apa yang telah terjadi.


Hosti telah berubah menjadi Daging dan anggur menjadi Darah!

Mukjizat ini terjadi hampir 1300 tahun yang silam dan berlangsung hingga kini. Sekitar tahun 1970-an dilakukan penelitian dan hasilnya membuktikan bahwa daging tersebut adalah jaringan jantung manusia dan darahnya adalah darah manusia, keduanya memiliki golongan darah AB. Darah memiliki karakteristik darah hidup dan tidak diketemukan adanya bahan pengawet atau sejenisnya, baik dalam daging maupun dalam darah. Kami merenungkan mukjizat Lanciano dengan Kitab Suci:

Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.” (Yoh 6:53-54)

Bangkitkanlah dalam diri kami rasa lapar dan haus akan santapan Ekaristi-Mu, ya Kristus, agar dengan mengikuti-Mu dan mencicipi roti surgawi-Mu, kami boleh datang untuk menikmati kehidupan kekal.

TRANI, tahun 1000

Pasa masa terjadinya Mukjizat Ekaristi ini, adalah seorang wanita Yahudi yang amat benci pada Gereja Katolik. Gereja St. Anna, dulunya adalah sebuah sinagoga, tetapi kini telah menjadi Gereja Katolik di mana orang-orang Yahudi yang telah bertobat bersembah bakti kepada Tuhan. Hari Kamis Putih, yaitu malam ditetapkannya Sakramen Ekaristi, adalah malam terjadinya mukjizat.

Wanita Yahudi berhasil membujuk seorang wanita Katolik yang murtad untuk membawakan baginya sekeping Hosti yang telah dikonsekrasikan. Setelah menerima Komuni Kudus, wanita itu tidak menyantap Hosti, melainkan membawanya kepada si wanita Yahudi guna mendapatkan imbalan sejumlah uang. Si wanita Yahudi kemudian pergi ke tungku dapur dan menjerangkan periuk yang telah diisinya dengan minyak. Ketika minyak dalam periuk mendidih, ia melemparkan Hosti Kudus ke dalamnya. Wanita itu sangat terkejut ketika Hosti berubah menjadi daging dan mulai mengeluarkan banjir darah.

Wanita Yahudi itu amat ketakutan sementara darah terus membanjir hingga meluber ke luar periuk. Para tetangga berdatangan untuk melihat mengapa ia berteriak-teriak, maka ia menceritakan kepada mereka apa yang telah terjadi. Beberapa wanita bergegas melaporkannya kepada imam yang segera datang dan melihat darah yang membanjir. Imam mengambil daging dari periuk dan membawanya ke Katedral Trani. Sebuah monstran perak berhias indah dirancang khusus bagi Kristus. Di tengah monstran ditempatkan dua bagian kecil dari Hosti yang tergoreng. Warna sebagian besar Hosti adalah coklat tua dan Hosti yang tercelup darah itu tidak mengalami kerusakan. Hosti disimpan dengan hormat serta dapat dilihat di katedral.

Selama berabad-abad dilakukan penyelidikan serta analisa terhadap Mukjizat Ekaristi ini. Pada tahun 1384, Paus Urbanus VI mengunjungi Trani dan menyatakan bahwa Hosti secara ajaib tidak mengalami kerusakan. Suatu pengakuan mengagumkan atas Kehadiran Nyata Yesus dalam Ekaristi.

FERRARA, tahun 1171

Mukjizat ini terjadi di Gereja St. Maria dari Ford di Ferrara, Italia lebih dari 800 tahun yang silam. Mukjizat terjadi pada Hari Minggu Paskah pada saat Konsekrasi. Ketika Hosti dipecah menjadi dua bagian, semua yang hadir terkejut melihat cucuran darah muncrat dari Hosti. Darah yang memancar demikian banyak hingga memercik ke dalam kubah setengah lingkaran yang berada di belakang dan di atas altar. Tidak saja para saksi mata melihat darah, mereka juga melihat Hosti telah berubah menjadi daging.

Uskup Ferrara dan Uskup Agung Gherardo dari Ravenna datang serta menyaksikan darah dan Hosti yang telah menjadi daging. Mereka menyatakan bahwa darah dan Hosti adalah sungguh Tubuh dan Darah Yesus Kristus. Paus Eugenius IV dan Paus Benediktus XIV mengakui mukjizat ini. Paus Pius IX mengunjunginya pada tahun 1858 dan mengenali tetesan-tetesan darahnya serupa dengan tetesan darah dalam Mukjizat Orvieto dan Bolsena.

AUGSBURG, tahun 1194

Mukjizat ini terjadi ketika seorang wanita ingin menyimpan Hosti yang telah dikonsekrasikan dalam rumahnya. Suatu pagi, ia menerima Ekaristi, tetapi tidak menyantapnya. Ia membawa pulang Hosti dan menempatkannya dalam segel, menjadikannya suatu reliqui sederhana. Ia menyimpan Tubuh Kristus di rumahnya selama lima tahun, tetapi lama-kelamaan timbul perasaan bersalah hingga akhirnya ia mengatakannya kepada pastor paroki.

Pastor Berthold, imam setempat, terperanjat ketika membuka segel reliqui. Dialah yang pertama melihat bahwa Hosti telah berubah menjadi sesuatu yang tampak seperti daging dengan lapisan-lapisan merah yang nampak jelas. Imam mendiskusikan masalah ini panjang lebar dan memutuskan bahwa mereka akan dapat mengidentifikasikannya dengan lebih baik jika daging dibagi menjadi dua bagian. Mereka keheranan ketika mendapati bahwa daging tidak dapat dibagi karena disatukan oleh pembuluh-pembuluh darah yang seperti benang. Diyakini kemudian bahwa daging tersebut adalah daging Tuhan kita Yesus Kristus.

Uskup Udalskolk dengan seksama meneliti mukjizat tersebut dan memerintahkan agar mukjizat Hosti ditempatkan kembali ke dalam segel reliquinya semula untuk dipindahkan ke katedral.

Mukjizat Hosti dan segelnya kemudian ditempatkan dalam suatu wadah kristal dan disimpan dalam kaca. Hosti tetap dalam keadaan semula hingga hampir 800 tahun.

Setiap tahun pada tanggal 11 Mei, pada perayaan Fest des Wunderbarlichen, yaitu Pesta Mukjizat Harta yang Mengagumkan, Hosti dihormati dengan perayaan Misa yang khidmat dan pakaian liturgi khusus.

Ya Kristus, berilah kami rahmat untuk memahami lebih baik serta membagikan kebenaran akan Kehadiran-Mu yang Nyata dalam Ekaristi. “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.” (Yoh 17:17).

ALATRI, tahun 1228

Seorang pemudi, yang tertarik pada seorang pemuda, diminta untuk membawa sekeping Hosti yang telah dikonsekrir agar dapat dibuatkan ramuan cinta. Sang pemudi menerima Komuni dan berjalan pulang ke rumah, tetapi karena merasa bersalah ia menyembunyikan Kristus di suatu pojok rumah.

Beberapa hari kemudian, ia datang dan mendapati bahwa Hosti telah berubah warna seperti daging. Imam paroki segera diberitahu dan ia membawa Hosti kepada Uskup. Bapa Uskup menulis surat kepada Paus Gregorius IX yang isinya:

“Kita patut menyampaikan puji syukur sedalam-dalamnya kepada Dia yang, sementara senantiasa menyelenggarakan segala karya-Nya dengan cara-cara yang mengagumkan, pada kesempatan-kesempatan tertentu juga mengadakan mukjizat-mukjizat dan melakukan hal-hal menakjubkan agar para pendosa menyesali dosa-dosa mereka, mempertobatkan yang jahat, dan mematahkan kuasa bidaah sesat dengan memperteguh iman Gereja Katolik, menopang pengharapan-pengharapannya serta mendorong amal kasihnya.

Oleh sebab itu, saudaraku terkasih, dengan surat Apostolik ini, kami menyarankan agar engkau memberikan penitensi yang lebih ringan kepada gadis tersebut, yang menurut pendapat kami, dalam melakukan dosa yang teramat serius itu, lebih terdorong oleh kelemahan daripada kejahatan, terutama dengan mempertimbangkan kenyataan bahwa ia sungguh menyesal setulus hati ketika mengakukan dosanya. Namun demikian, terhadap wanita yang menghasutnya, yang dengan kejahatannya mendorong si gadis untuk melakukan dosa sakrilegi, perlu dikenakan hukuman disipliner yang menurutmu lebih pantas; juga memerintahkannya untuk mengunjungi semua Uskup di wilayah terdekat, guna mengakukan dosa-dosanya kepada mereka dan mohon pengampunan dengan ketaatan yang tulus …”

Mukjizat Hosti dipertontonkan dua kali setahun, yaitu pada hari Minggu pertama sesudah Paskah dan hari Minggu pertama sesudah Pentakosta.

Pada tahun 1960, Uskup Facchini dari Alatri membuka segel tempat Hosti disimpan dan mengeluarkannya. Uskup menyatakan bahwa Hosti tetap dalam keadaan sama seperti saat pertama diketemukan, yaitu, sekerat daging yang tampak sedikit kecoklatan.

Pada tahun 1978, perayaan-perayaan istimewa diselenggarakan untuk memperingati 750 tahun terjadinya mukjizat.

“Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati.” (Yoh 6:48-50)

DAROCA, tahun 1239

Kota di Spanyol ini bukanlah tempat terjadinya mukjizat, melainkan tempat ditahtakannya mukjizat Ekaristi yang terjadi dalam masa perang antara Spanyol dan Saracens pada abad ketigabelas.

Seperti kebiasaan, sebelum maju berperang, keenam komandan Spanyol pergi menghadiri Misa dan menerima Sakramen Tobat. Di pinggiran kota, mereka diserang secara tiba-tiba oleh pasukan Saracens. Imam membungkus keenam Hosti yang telah dikonsekrasikan dengan korporal, lalu menyembunyikannya sementara pasukan Spanyol membalas serangan Saracens. Setelah pertempuran yang dimenangkan oleh Spanyol itu usai, imam pergi ke tempat ia menyembunyikan Hosti dan mendapati bahwa Hosti telah lenyap meninggalkan enam noda darah di korporal. Rahasia kemenangan mereka dinyatakan oleh Kristus melalui mukjizat Ekaristi ini.

Masing-masing komandan menghendaki agar korporal disimpan di kota asalnya. Dari tiga pilihan, akhirnya dipilihlah kota Daroca. Dua orang komandan tidak setuju akan keputusan tersebut, maka diusulkanlah suatu jalan keluar. Korporal akan dimuatkan ke atas punggung seekor keledai Saracen yang dibiarkan pergi sekehendak hatinya dan tempat di mana keledai itu berhenti akan menjadi tempat korporal ditahtakan. Sang keledai berhenti di kota Daroca. Darah di korporal telah dianalisa para ahli dan dinyatakan sebagai darah manusia.

Ya Kristus, berilah kami pengertian lebih dalam akan wafat-Mu di salib dan kemenangan-Mu atas setan seperti kemenangan Spanyol atas Saracens.

SANTAREM, tahun 1247

Seorang wanita yang suaminya tidak setia, meminta nasehat dari seorang wanita tenung. Wanita sihir itu berjanji akan mengubah perilaku suaminya jika si wanita membawakan baginya sekeping Hosti yang telah dikonsekrasikan. Ia juga menasehati si wanita untuk berpura-pura sakit agar dapat menerima Komuni Kudus dalam minggu itu dan segera memberikan Hosti kepadanya. Si wanita tahu bahwa hal itu dosa. Ia pergi menerima Komuni, tetapi tidak menyantap Tubuh Kristus. Ia meninggalkan Misa dan dalam perjalanan menuju tempat wanita tenung, Hosti mulai mengeluarkan darah. Beberapa orang yang melihat kejadian tersebut menyangka bahwa ia mengalami pendarahan. Rasa takut menguasai dirinya dan ia pulang ke rumah, menempatkan Hosti dalam sebuah peti, membungkusnya dengan saputangan, lalu menutupinya dengan linen yang bersih.

Tengah malam, ia dan suaminya terbangun oleh suatu sinar cemerlang yang berasal dari peti, yang menjadikan ruangan mereka terang-benderang. Para malaikat telah membuka peti dan membebaskan Tuhan. Wanita itu menceritakan kepada suaminya apa yang telah terjadi dan bahwa dalam peti terdapat sekeping Hosti yang telah dikonsekrasikan. Berdua mereka melewatkan sepanjang malam dengan berlutut dalam sembah sujud. Seorang imam dipanggil. Imam membawa Hosti Kudus kembali ke gereja dan menyegelnya dalam sebuah segel lilin.

Sembilan belas tahun kemudian, seorang imam membuka tabernakel dan memperhatikan bahwa segel telah terbuka sementara Hosti tersimpan dalam sebuah piksis kristal. Mukjizat ini, 750 tahun kemudian, yaitu pada tahun 1997, diperingati dengan berbagai perayaan meriah di Santarem.

Kita mungkin bertanya mengapa Tuhan mengadakan mukizat-mukjizat ini bagi kita. Mungkin untuk menyatakan betapa Ia sungguh hadir dalam Ekaristi dan betapa Ia sungguh mengasihi kita. Ia menghendaki agar kita semua, termasuk juga domba-domba yang hilang, bergabung kembali dalam kawanan. Ia mengasihi kita, bagaimana pun berdosanya kita. Ia adalah Allah Kasih dan Belas Kasihan. Dan Ia menghendaki agar kita membagikan Kasih dan Belas Kasihan itu kepada sesama.

ORVIETO dan BOLSENA, tahun 1263

Mukjizat ini terjadi pada masa suatu ajaran sesat yang disebut Berengarianisme merajalela di Eropa. Bidaah ini menyangkal Kehadiran Nyata Kristus dalam Ekaristi. Pada tahun 1263, seorang imam bernama Petrus dari Prague sedang dalam perjalanan ziarah ke Roma untuk berdoa di makam pelindungnya, St Petrus, sebab ia menghadapi masalah yang amat serius. Ia merasakan kebimbangan yang besar mengenai Kehadiran Nyata Yesus dalam Ekaristi Kudus. Ia berdoa agar santo pelindungnya memohonkan rahmat baginya guna menyelamatkan imannya yang goyah. Dalam perjalanan, ia singgah untuk bermalam di suatu kota kecil bernama Bolsena, sekitar 70 mil sebelah utara Roma.

Keesokan harinya, Pastor Petrus merayakan Misa Kudus di Gereja St Kristina. Sementara ia mengucapkan kata-kata konsekrasi, “Inilah TubuhKu,” roti di tangannya berubah rupa menjadi Daging dan mulai mencucurkan darah dengan derasnya. Darah jatuh menetes ke korporal. Pastor Petrus amat terperanjat; ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Maka, ia membungkus Hosti Kudus dalam Korporal lalu pergi meninggalkan altar. Sementara ia berjalan pergi, tetesan-tetesan Darah jatuh ke atas lantai pualam di altar.

Paus Urbanus IV sedang berada di kota Orvieto, yang tak jauh dari sana. Pastor Petrus segera menemui paus guna menceritakan apa yang telah terjadi. Paus segera mengutus seorang uskup ke Gereja St Kristina guna menyelidiki peristiwa tersebut dan mengambil Korporal.

Segera sesudah paus menerima Korporal dari Uskup, ia pergi ke balkon Istana Kepausan dan dengan hormat mempertontonkan mukjizat Korporal kepada orang banyak. Bapa Suci menyatakan bahwa mukjizat Ekaristi telah terjadi guna mengusir bidaah Berengarianisme. Pada saat yang sama, seorang pengikut St. Yuliana dari Liège menghubungi paus untuk sekali lagi memohon demi ditetapkannya Hari Raya Corpus Christi. Setahun kemudian, pada tahun 1264, Paus Urbanus IV memaklumkan Hari Raya agung ini kepada seluruh Gereja. (Mukjizat Korporal disimpan hingga kini di Katedral Orvieto. Lantai pualam bernoda Darah disimpan di Gereja St Kristina di Bolsena).

CASCIA, sekitar tahun 1300

Cascia adalah sebuah kota kecil di pegunungan di lembah Umbrian, Italia. Itulah kota kediaman St. Rita dari Cascia. Jenazah St. Rita yang hingga kini masih utuh dibaringkan di Basilika Utama. Di bawahnya, di Basilika Kecil, disimpan Mukjizat Ekaristi dan jenazah Beato Simone Fidati, seorang imam yang terlibat langsung dalam mukjizat tersebut.

Pada masa terjadinya mukjizat, seorang imam tak lagi memiliki rasa hormat terhadap Ekaristi. Ketika diminta untuk mengantarkan Sakramen Mahakudus kepada seorang petani yang sedang sakit, ia mengambil sekeping Hosti yang telah dikonsekrasikan, menempatkannya dengan sembarangan di antara halaman-halaman buku breviary, lalu berangkat. Ketika ia membuka bukunya, ia mendapati bahwa Hosti telah berubah warna merah darah segar dan darah meresap ke kedua halaman buku di mana Hosti diselipkan.

Imam tersebut kemudian mohon nasehat Beato Simone Fidati, seorang imam yang kudus dan dihormati pada masa itu. Pastor Fidati menerima pengakuan sang imam dan memberinya absolusi. Beato Fidati mengambil kedua halaman dari breviary itu; satu ditempatkannya di tabernakel di Perugia dan satunya lagi ditempatkannya di Cascia. Mukjizat Ekaristi ini diperingati secara istimewa di Cascia setiap tahun pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus.

Orang-orang yang melihat ke halaman yang ternoda darah itu dapat melihat gambar Kristus tertera di sana.

Ya Kristus, berilah kami rahmat agar dapat melihat Engkau dalam Ekaristi dan mengenali-Mu pada saat pemecahan roti.

HASSELT, tahun 1317

Seorang imam mengunjungi seorang penduduk desa yang sedang sakit. Ia membawa bersamanya sekeping Hosti dalam siborium dan meletakkan siborium di atas meja, sementara ia pergi ke kamar lain untuk berbicara dengan si sakit dan keluarganya. Seseorang yang berada dalam keadaan dosa berat membuka tutup siborium, memegang Hosti, lalu mengangkatnya. Seketika itu juga, Hosti mulai berdarah. Imam memasuki ruangan dan ia amat terperanjat melihat Hosti yang berdarah.

Imam membawa kembali Hosti yang berdarah itu kepada kepala parokinya yang menasehatinya untuk membawa Mukjizat Ekaristi itu ke gereja biara para biarawati Cistercian di Herkenrode yang berjarak sekitar 30 mil jauhnya.

Begitu imam tiba di altar biara dan menempatkan Hosti di atas altar, suatu penglihatan akan Kristus bermahkotakan duri nampak kepada semua imam yang hadir. Oleh karena mukjizat Ekaristi dan penglihatan itu, segera saja Herkenrode berubah menjadi tempat ziarah yang terkenal di Belgia.

Pada tahun 1804, Hosti dibawa ke Gereja di San Quentin di Hasselt, di mana mukjizat Hosti yang terjadi pada tahun 1317 itu masih tetap dalam keadaan seperti semula.

BLANOT, tahun 1331

Blanot, suatu dusun pertanian kecil, tidak pernah digambarkan dalam peta-peta Perancis. Orang-orang Perancis yang meninggalkan Paris dan wilayah utara untuk menikmati matahari pantai selatan akan melewatinya dari tahun ke tahun tanpa pernah mengetahui keberadaan Blanot.

Namun demikian, dusun kecil ini dipilih Tuhan untuk menyatakan mukjizat-Nya - mukjizat Ekaristi. Pada tahun 1331 penduduk desa berdatangan dengan berjalan kaki atau dengan mengendarai kuda untuk merayakan Misa Paskah. Gereja kecil mereka dipadati umat beriman dan Misa pun dimulai. Kesedihan Masa Prapaskah telah berlalu dan umat Kristiani di seluruh dunia merayakan sukacita Kebangkitan Yesus. Dapat dibayangkan bagaimana bunga-bunga liar yang indah di desa itu telah dikumpulkan dan dirangkai menghiasi gereja untuk perayaan meriah pagi itu.

“Yesus Kristus telah Bangkit - Alleluia!”

Sementara imam mempersiapkan Hosti, para putera altar membentangkan kain putih panjang guna meyakinkan bahwa Hosti Kudus tidak terjatuh di lantai. Umat maju ke altar, sebagian dengan tangan bersilang di dada dan sebagian lainnya membuka mulut mereka untuk menerima Hosti. Seorang wanita, dengan sedikit tergesa dan canggung, menutup mulutnya terlalu cepat sehingga secuil kecil Hosti jatuh ke atas kain putih. Para putera altar amat terperanjat ketika serpihan kecil Roti berubah menjadi suatu tetesan berwarna merah!

Segera sesudah umat terakhir menyambut Kristus, para putera altar bergegas memberitahukan kepada imam apa yang telah terjadi. Imam menyisihkan kain itu dan mencucinya dalam air bersih beberapa kali, tetapi, meskipun air berubah warna menjadi merah, bekas tetesan terus muncul dan semakin membesar. Bekas itu tidak mau hilang. Imam kemudian sadar bahwa Darah tidak akan mungkin dihapuskan dari kain, maka ia menggunting bagian yang ternoda Darah dan menempatkannya dalam sebuah mostrans.

Berita tentang mukjizat ini berkembang amat cepat dan pada hari Minggu, limabelas hari sesudah paskah, Uskup Autun dari keuskupan terdekat, datang ke Blanot disertai serombongan imam untuk menyelidiki kasus tersebut. Di akhir penelitian, tim sepakat dengan suara bulat bahwa suatu mukjizat telah terjadi. Tahun berikutnya, Paus Yohanes memberikan indulgensi khusus bagi mereka yang merayakan Misa di gereja kecil Blanot. Para peziarah dari tempat-tempat yang jauh berdatangan ke Blanot. Kain di simpan dalam gereja sebagai tanda nyata akan kasih Allah. Di kemudian hari, kain dipotong dan reliqui kecil yang berharga itu ditempatkan dalam sebuah botol kristal. Meskipun harus melewati dua kali masa perang dunia, reliqui tersebut tidak pernah meninggalkan Blanot. Dalam masa-masa kesesakan - reliqui dihantar dari rumah ke rumah - dan dari waktu ke waktu dipergunakan untuk menyembuhkan mereka yang sakit. Dalam masa-masa tenang, reliqui dihantar kembali ke rumahnya yang pantas dalam dinding gereja dan di sanalah ia berada hingga saat ini bagi para peziarah yang datang dari seluruh penjuru dunia untuk menyaksikan serta bersembah sujud di hadapannya.

BOLOGNA, tahun 1333

Mukjizat ini terjadi pada tahun 1333 di Bologna, Italia karena seorang gadis remaja saleh yang berumur sebelas tahun memiliki kerinduan yang berkobar-kobar untuk menyambut Kristus dalam Ekaristi.

Imelda Lambertini dilahirkan dalam sebuah keluarga kaya. Ayahnya adalah Count Eagno Lambertini. Imelda bergabung dalam Biara Dominikan ketika usianya baru sembilan tahun. Ia disayangi oleh para biarawati lainnya. Dalam usia yang masih sangat muda, Imelda memiliki cinta yang menyala-nyala kepada Yesus dalam Ekaristi dan karenanya sungguh rindu menyambut-Nya dalam Komuni Kudus. Tetapi, hal itu tidak mungkin baginya karena usianya belum cukup untuk dapat menerima Komuni.

Tuhan mengaruniakan kepadanya suatu anugerah istimewa pada Pesta Kenaikan Yesus ke Surga pada tahun 1333. Sementara ia berdoa, sebuah Hosti tampak melayang-layang di udara di hadapannya. Imam segera dipanggil dan ia memberikan kepada Imelda Komuni Kudusnya. Imelda mengalami ekstasi dan tidak pernah bangun kembali. Ia wafat saat menyambut Komuni Kudusnya yang Pertama!

Devosi kepada Beata Imelda pun dimulai dan pada awal tahun 1900-an suatu komunitas Dominikan dibentuk dengan nama Suster-suster Dominikan dari Beata Imelda. Para biarawati ini berjuang keras menyebarluaskan cinta dan devosi kepada Ekaristi serta menggalakkan Adorasi Abadi. Jenasah Beata Imelda yang tetap utuh hingga kini dibaringkan di Gereja San Sigismondo dekat Universitas Bologna. Paus St. Pius X memaklumkan Imelda sebagai Pelindung Para Penerima Komuni Pertama.

Ya Kristus, biarkan kami mati setiap hari bagi-Mu dan menyambut Engkau dalam Ekaristi seakan-akan itulah komuni kami yang terakhir. Jadikan kami pula seperti anak-anak kecil, dengan cinta yang polos dan kepercayaan penuh akan cinta dan belas kasihan-Mu.

MACERATA, tahun 1356

Hanya sedikit catatan yang ada mengenai mukjizat Ekaristi ini, tetapi kisahnya yang ditulis di atas sebuah perkamen dari abad ke-14 masih ada hingga sekarang.

Mukjizat ini berkenaan dengan perdebatan yang berlangsung beberapa abad sebelumnya dan yang ditulis oleh St. Thomas Aquinas; yaitu, apakah Kristus tetap hadir sama dalam setiap bagian Hosti yang telah dikonsekrasikan setelah Hosti dipecah-pecahkan oleh imam, yang kemudian memasukkan sepotong kecil Hosti Kudus ke dalam piala berisi anggur yang telah dikonsekrasikan.

Mukjizat terjadi setelah imam memecahkan sebuah Hosti besar. Darah mulai memancar dari Hosti ke dalam piala dan membasahi korporal serta kain altar. Imam kemudian pergi kepada uskup yang mengesahkan peristiwa mukjizat ini. Korporal dengan Darah Kristus dihormati setiap tahun di Macareta pada hari Minggu sesudah Pentakosta. Kini reliqui disimpan di bawah altar Katedral Macerata.

Doa: Ya Kristus, kami ingat akan sabda-Mu dalam Yohanes 6:35: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.”

MIDDLEBURG ~ LOUVAIN, tahun 1374

Pada tahun 1374, seorang pemuda dengan dosa berat dalam jiwanya pergi menyambut Komuni Kudus. Ketika Hosti ditempatkan di atas lidahnya, Hosti berubah menjadi Daging sehingga ia tak dapat menelannya. Darah menetes dari bibirnya dan membasahi kain pada rel komuni. Imam bertindak cepat dengan mengambil Hosti Kudus serta menempatkannya dalam sebuah piala di altar.

Berita mengenai mukjizat ini tersebar keseluruh penjuru Belgia dan mukjizat Hosti dipindahkan 700 mil jauhnya ke Cologne. Sebuah ostensorium berhias indah dibuat. Sebagian Hosti dan sepotong kain dengan noda darah kemudian dibawa ke Louvain di mana telah dipersiapkan sebuah wadah reliqui yang indah.

Bagian mukjizat Ekaristi yang disimpan di Louvain berwarna agak kecoklatan dan dapat dikenali dengan mudah sebagai daging. Reliqui disimpan dalam sebuah wadah reliqui yang dibuat pada tahun 1803. Dokumen-dokumen penting dan hasil penelitian terhadap reliqui disimpan dalam perpustakaan Gereja St. Jacques.

BOXTEL ~ HOOGSTRATEN, tahun 1380

Mukjizat terjadi di Boxtel, Belanda, sekitar tahun 1379 di Gereja St. Petrus. Pada saat Konsekrasi, imam - Pastor Van der Aker - kehilangan keseimbangan dan menumpahkan isi piala ke atas korporal dan kain altar. Karena alasan yang tidak diketahui, imam mempergunakan anggur putih dalam Misa tersebut, tetapi yang tampak di atas korporal dan kain altar adalah cairan berwarna merah darah!

Setelah Misa usai, imam bergegas ke sakristi untuk mencuci korporal dan kain altar. Ia berusaha menghilangkan noda darah. Namun demikian, berbagai usaha yang dilakukannya tidak membuahkan hasil. Pastor Van der Aker lalu menempatkan kain dalam sebuah piala kecil dan menyembunyikannya. Menjelang ajalnya, imam mengaku kepada bapa pengakuannya dan menunjukkan di mana ia telah menyembunyikan korporal dan kain altar yang kudus itu, masih dengan noda darah merah yang tertumpah atasnya.

Pastor Van der Aker meninggal dunia pada tahun 1379, dan pada tahun 1380 Kardinal Pileo memaklumkan agar setiap tahun sekali, yaitu pada tanggal 25 Juni reliqui Darah Mahasuci ditahtakan.

Pada tahun 1652, korporal dan kain altar dengan Darah Mahasuci dipindahkan ke Hoogstraten, di perbatasan Belgia. Pada tahun 1924, korporal kudus dikembalikan ke Boxtel, tetapi kain altar tetap disimpan di Hoogstraten. Bahkan hingga kini masih diadakan perarakan mukjizat Ekaristi di Boxtel pada Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Umat tidak pernah ragu lagi dalam iman mereka akan kehadiran nyata Kristus dalam Ekaristi.

BAGNO DI ROMAGNA, tahun 1412

Mukjizat Ekaristi ini terjadi di sebuah kota kecil di Italia bernama Bagno di Romagna ketika seorang imam merayakan Misa dengan dihantui keragu-raguan yang besar akan Kehadiran Nyata Kristus dalam Ekaristi. Setelah mengkonsekrasikan anggur, imam melihat ke dalam piala dan amat terkejut melihat bahwa anggur telah berubah menjadi darah. Darah mulai meluap keluar dari piala dan membasahi korporal. Terguncang oleh peristiwa adikodrati ini, imam segera berdoa mohon pengampunan. Kelak, ia bahkan digelari Venerabilis karena kesalehan hidupnya setelah terjadinya mukjizat.

Pada tahun 1912, ulang tahun ke-500 mukjizat Ekaristi, suatu perayaan besar diselenggarakan. Pada tahun 1958, dilakukan penelitian ilmiah yang hasilnya menguatkan bahwa darah di korporal adalah darah manusia dan masih mengandung karakteristik darah setelah hampir 600 tahun sesudah mukjizat terjadi.

Mungkin mukjizat Darah yang meluap hendak menunjukkan kepada kita bahwa Yesus sungguh hadir dalam Ekaristi. Mari merenungkan bagaimana seharusnya kita berubah setelah menyambut Yesus dengan mengijinkan-Nya tinggal dalam kita dan mengisi kita dengan kuasa Roh Kudus.

FAVERNEY, tahun 1608

Mukjizat unik ini tidak menyangkut Hosti Kudus yang berubah rupa menjadi daging atau memancarkan darah, melainkan Hosti yang melawan hukum gravitasi. Mukjizat terjadi setelah pecahnya Reformasi dan semangat umat beriman semakin mengendor. Pada tahun 1608, pada Hari Raya Pentakosta, tanggal 25 Mei, gereja dipadati umat dan saat senja tiba, dua lampu minyak dibiarkan menyala di depan Sakramen Mahakudus yang ditahtakan sepanjang malam dalam sebuah monstran.

Keesokan harinya, seorang petugas sakristi membuka pintu-pintu gereja. Ia melihat asap dan menyadari bahwa telah terjadi kebakaran. Segala daya upaya dilakukan guna memadamkan api; terlihat bahwa monstran melayang-layang di udara. Berita mulai tersebar dan banyak orang percaya maupun mereka yang skeptis datang untuk menyaksikan peristiwa ini. Para imam bergantian mempersembahkan Misa Kudus sementara semakin banyak orang yang datang untuk menyaksikan mukjizat. Pada pagi hari Selasa, 27 Mei, dalam Perayaan Misa, saat Konsekrasi, Hosti Kudus turun ke atas altar yang dibawa ke dalam Gereja untuk menggantikan altar lama yang musnah dimakan api.

Penyelidikan pun dilakukan dan 54 surat pernyataan berisi kesaksian berhasil dikumpulkan dari para imam, biarawan, petani serta penduduk desa. Pada tanggal 30 Juli 1608, Uskup Agung menyatakan peristiwa tersebut sebagai mukjizat.

Yang menarik adalah kenyataan bahwa altar, taplak altar, dan segala peralatan lainnya musnah, juga sebuah kandelar didapati meleleh karena panasnya api. Namun demikian, monstran tetap utuh. Pernyataan-pernyataan para saksi di bawah sumpah masih disimpan hingga kini dalam gereja. Sebuah prasasti marmer dipasang di bawah lokasi di mana Hosti melayang dengan tulisan berikut diukir di atasnya: “Lieu Du Miracle” yang artinya “Tempat terjadinya Mukjizat.”

SIENA, tahun 1730

Mukjizat Ekaristi ini terjadi pada akhir pekan Pesta Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, di kota Siena, Italia, pada tahun 1730. Siena adalah sebuah kota yang menawan, yang terkenal karena sejarah seni dan kebudayaannya, dan juga karena di kota itulah St. Katarina dan St. Bernardinus dari Siena dilahirkan.

Para pencuri berhasil masuk ke dalam gereja dan mencuri siborium emas yang berisi 351 Hosti yang telah dikonsekrir. Ketika para petinggi Gereja menyadari apa yang telah terjadi, segala kegiatan pada hari itu dihentikan dan doa-doa pun dipanjatkan demi kembalinya Hosti Kudus dengan selamat. Tiga hari kemudian, Hosti Kudus didapati muncul dari kotak dana gereja bagi orang-orang miskin dan jumlahnya masih utuh.

Hosti yang adalah Kristus dibersihkan dan kemudian diarak perlahan kembali ke gereja di mana dihaturkan sembah sujud. Hosti Kudus tidak disantap pada waktu itu. Tahun-tahun berlalu dan secara periodik Hosti disantap dan senantiasa didapati dalam keadaan baru.

Pada tahun 1850, uskup memerintahkan dilakukan pengujian yang hasilnya menguatkan bahwa Hosti masih dalam keadaan baru. Mereka juga melakukan pengujian yang sama atas hosti-hosti yang tidak dikonsekrasikan, yang ditempatkan dalam sebuah kotak kedap udara pada tahun 1789, ternyata didapati hanya sedikit saja yang tersisa.

DOA: Ya Kristus, ambillah balok dari mata kami! Berilah kami karunia untuk percaya bahwa Engkau sungguh hadir dalam Ekaristi Kudus, seperti yang Engkau sabdakan dalam Kitab Suci.

PEZILLA-LA-RIVIERE, tahun 1793

Mukjizat Ekaristi Pezilla-la-Riviere terjadi pada bulan September 1793, bertepatan dengan Revolusi Perancis dan dimulainya masa pemerintahan yang bengis.

Revolusi dan gelombang anti-Katolik menyebar dengan sangat cepat, dan kaum religius dikejar-kejar polisi. Dalam Gereja desa terdapat lima Hosti yang telah dikonsekrasikan; satu Hosti Kudus yang besar dihantar ke rumah Jean Bonafas, sementara keempat Hosti yang kecil, yang ditempatkan dalam sebuah piksis, dipercayakan kepada Rose Llorens. Jean menempatkan Hosti Kudus dalam sebuah kotak kayu serta menyembunyikannya di bawah lantai rumahnya. Rose menempatkan Hosti Kudus dalam sebuah cawan gelas bertutup dan kemudian menempatkannya dalam sebuah tas sutera merah.

<span>Hampir tujuh tahun kemudian, pada hari-hari berakhirnya Revolusi, keempat Hosti dikeluarkan dari cawan gelas dan suatu segel berwarna coklat tua terbentuk disekeliling bagian luar cawan. Tujuh hari kemudian, kotak kayu pun dibuka dan Hosti Kudus yang besar masih terletak di dalam Monstran, sama indah dan sama putih bersihnya seperti saat ditempatkan di sana hampir tujuh tahun yang silam. Hosti-hosti Kudus tetap dalam keadan utuh dan tidak rusak hingga tahun 1930. Pada waktu itu, Hosti Kudus ditempatkan dalam sebuah tabernakel yang baru dibangun, yang terletak di belakang altar utama gereja. Karena alasan-alasan yang tak diketahui, Hosti-Hosti tersebut menjadi rusak dan Kristus dalam mukjizat tidak lagi hadir. </span>

<span>BORDEAUX, tahun 1822</span>

Setelah berakhirnya Revolusi Perancis, terjadi pembaharuan semangat iman dan Bordeaux diberkati dengan lahirnya beberapa komunitas religius baru. Salah satu di antaranya adalah komunitas Keluarga Kudus dari Bordeaux, di mana mukjizat Ekaristi ini terjadi.

Imam yang memimpin Adorasi Sakramen Mahakudus menulis sebuah dokumen resmi yang menyatakan bahwa ketika mentahtakan Sakramen Mahakudus, ia melihat kepala, dada dan lengan Sang Juruselamat di tengah suatu lingkaran yang mengelilingi-Nya bagaikan suatu lukisan berbingkai, tetapi Ia tampak hidup. Moeder Superior juga menyatakan bahwa ia melihat Yesus, juga putera altar dan beberapa saksi lain. Berdasarkan laporan dan penelitian, Uskup Agung Bordeaux memaklumkan pengakuan Gereja. Paus Leo XII juga segera menegaskan mukjizat dan menetapkan Pesta Keluarga Kudus untuk mengenangnya.

Setiap tahun, di biara-biara Kongregasi Keluarga Kudus, diadakan perayaan menghormati mukjizat Ekaristi ini. Monstran yang dipergunakan pada hari terjadinya mukjizat senantiasa disimpan di rumah biara di Bordeaux.

BETANIA, tahun 1991

Semua Mukjizat Ekaristi yang lain terjadi beberapa ratus tahun yang silam. Tetapi, mukjizat yang terjadi dalam Perayaan Misa di Betania, Venezuela, terjadi pada pesta SP Maria Dikandung Tanpa Dosa pada tahun 1991. Sekeping Hosti yang telah dikonsekrir, yang adalah sungguh Daging Kristus, mulai memancarkan darah. Sesudahnya, sebuah tim medis memastikan bahwa cairan yang memancar dari Hosti Kudus adalah darah manusia. Uskup setempat memaklumkannya sebagai tanda transsubstansiasi dengan mengatakan, “Tuhan hendak menyatakan kepada kita bahwa iman kita akan Hosti yang telah dikonsekrir adalah benar.”

Banyak peristiwa-peristiwa menakjubkan lainnya terjadi di Betania, termasuk penampakan-penampakan Bunda Maria yang disaksikan oleh beberapa ribu orang, berbagai penyembuhan-penyembuhan baik jasmani maupun rohani, dan seorang mistikus bernama Maria Esperanza yang dianugerahi karunia stigmata, bilokasi, dan levitasi (= terangkat dan melayang di udara) saat berdoa. Bapa Uskup sendiri menyaksikan suatu fenomena adikodrati dan menulis sepucuk surat pastoral yang menyatakan bahwa setelah penelitian dengan seksama, ia memaklumkan penampakan-penampakan tersebut sebagai benar dan berasal dari kuasa ilahi.

Kristus dan Bunda Maria berusaha memberitahukan kepada segenap umat manusia bahwa kita perlu menyerahkan segala kepercayaan kita kepada Tuhan dan berkarya demi kerajaan-Nya, dan bukan demi ego kita, demi kebanggaan kita, dan demi kemuliaan kita sendiri. Kita adalah terang dunia dan karenanya biarlah sesama melihat kita sebagai terang yang bersinar cemerlang, sebab kita telah ditebus oleh Darah Yesus Kristus dan karenanya patutlah kita senantiasa memuliakan Allah di surga