(*_*)::::Vera Toha::::(*_*)

Senin, 24 Oktober 2011

Sebuah Refleksi Terhadap "Curi Domba"

oleh Vera Toha pada 24 Oktober 2010 jam 0:27

SANTO THOMAS MORE (1478-1535) : Sebuah Refleksi terhadap "Curi Domba"
Oleh Doa dan Ucapan Syukur Kemarin jam 23:14

Kesuksesan, kegemilangan, kedudukan tinggi menjadi orang kedua setelah raja, dan kekayaan yang berlimpah, tidak membuat seorang Thomas More menjadi silau... Ketika dia dihadapkan pilihan... Dengan rahmat Tuhan, dia telah melepaskan segala sesuatu demi cintakasihnya kepada Kristus dan Gereja Katolik.

St. Thomas More seorang kudus dari kerajaan Inggris, merupakan salah satu dari deretan para kudus awam. Prestasinya yang gemilang dalam study, membuat dia menjadi seorang pengacara dan penulis terkenal di kerajaan Inggris... Tidak hanya itu rupanya kesuksesan dan keberuntungan menyertai dia, sampai akhirnya dia diangkat sebagai penasihat Raja (Lord High Chancellor) oleh raja Henry VIII, atau istilah lain menjadi perdana menteri, orang kedua tertinggi di kerajaaan Inggris. Kedekatannya dengan raja, sering digambarkan bagaimana raja Henry VIII sering melingkarkan tangannya di bahu Thomas More.

Tetapi semua pencapaian itu tidak membuat Thomas More menjadi terlena... Sebagai anggota ordo ketiga Fransiskan... Dia selalu berusaha menghayati kehidupannya, baik sebagai perdana menteri, sebagai kepala keluarga, lebih-lebih sebagai pengikut Kristus, sebagai seorang Katolik.

Sebagai kepala keluarga, dia bersama istrinya dikaruniai 4 anak.. Sayangnya karena penyakit, istrinya meninggal dalam usia muda.. Kemudian dia menikah dengan seorang janda.. Dan mereka menghayati hidup keluarga mereka di dalam kasih Kristus sendiri.

Sebagai pengikut Kristus, di tengah segala kesibukannya, pada malam hari Thomas More banyak mempersembahkan waktunya untuk doa pribadi. Dia membangun kapela pribadi di rumahnya, agar sewaktu-waktu dia dapat hadir di hadapan Tuhan. Di Gereja pun dia aktif melayani sebagai asisten imam. Dan dia pun aktif membuat tulisan-tulisan rohani.

Suatu ketika ada orang yang memberi masukan kepadanya, bahwa sebagai seorang awam tidak mungkinlah bagi dirinya untuk melaksanakan tugas-tugas dunia yang sedemikian banyak dan kompleksnya, dan pada saat yang sama menekuni hidup rohani guna mencapai kesucian. Menanggapi masukan itu Thomas More mengatakan, bahwa Komuni Kudus-lah yang membuat dirinya tetap fokus dan untuk meringankan beban-beban pekerjaannya, dia akan mendekat kepada Juru Selamat-Nya, memohon terang dan bimbingan daripada-Nya. Yesus Kristus adalah kekuatan dan andalannya.

Pada suatu hari, ketika Thomas More sedang menghadiri Misa Kudus seorang petugas istana mendekatinya dan berbisik kepadanya: “Tuanku, Sri Paduka Raja menginginkan agar Tuanku menghadapnya dengan segera.” Thomas More menjawab: “Aku tidak dapat menghadap sekarang. Katakanlah kepada Sri Paduka Raja, bahwa aku sedang menghadap seorang Raja yang lebih besar daripadanya. Begitu tugas-kewajibanku kepada Raja yang lebih besar ini selesai, aku akan langsung menghadap Sri Paduka Baginda.” Petugas istana itu pun pergi dan Thomas More, sang Lord High Chancellor, melanjutkan doa-doanya dengan khusyuk sampai Misa Kudus berakhir.

Suatu ketika Raja Henry VIII ingin menceraikan permaisurinya dan ingin menikahi seorang dayang-dayang, Anna Boleyn. Raja meminta ijin kepada Sri Paus. Tentu serta-merta permintaan ini ditolak. Akhirnya Henry VIII memberontak dan mengangkat dirinya menjadi pimpinan tertinggi Gereja Inggris, yang kita kenal sekarang sebagai Gereja Anglikan. Mulai saat itulah Gereja Katolik Inggris mengalami penganiayaan, siapa yang mau ikut Raja menjadi Anglikan maka akan aman, tetapi yang mau tetap setia pada Gereja Katolik akan dianiaya. Banyak di kalangan klerus, religius dan awam, karena takut mati, mereka memilih taat kepada raja. Tetapi tidak sedikit, yang tetap setia kepada Sri Paus, setia kepada Gereja Katolik... Dan akhirnya dibunuh sebagai martir... Contoh yang terkenal St. Johannes Fischer, seorang uskup dan martir... Tetapi bagaimana dengan 'tangan kanan' raja?

Thomas More tahu benar bahwa perbuatan rajanya itu tidak sesuai dengan kehendak Allah. Rajanya hanya mengikuti dorongan hawa nafsu dan akhirnya memberontak kepada Sri Paus serta memisahkan diri dari Gereja Katolik.
Sebagai abdi raja, dia sadar pertama-tama dia adalah Abdi Kristus, Raja di atas segala raja... Berbagai bujukan dan rayuan tidak membuat Thomas More bergeming... Dia memilih Kristus... Dia memilih Gereja Katolik... Dia memilih kebenaran...

Dalam penjara pun, istrinya disuruh membujuk dia... Cara halus tidak mempan, maka mulai digunakan cara lain... Raja terus mengulur waktu, bahkan menyiksa dengan cara perlahan-lahan, dengan harapan 'orang kepercayaannya' ini tidak tahan dan akhirnya menyerah kepadanya. Tetapi tentunya semua itu semakin menambah penderitaan dan siksaan Thomas More... Tetapi Thomas More menanggung semua itu dengan rela, demi cintakasihnya kepada Kristus dan GerejaNya.

Sampai akhirnya habis kesabaran raja... Thomas More dipancung... Sebelum dipancung, Thomas More sempat bergurau dengan algojo: "Jangan terkena janggutku, karena janggutku tidak bersalah apa-apa kepada raja"

Akhirnya St.Thomas More mengenakan mahkota kemartiran, dia telah melepaskan segala-galanya untuk bersatu dengan Kristus yang tersalib, hingga akhirnya mengalami kebangkitan bersama Dia. St.Thomas More adalah teladan iman kepada Kristus dan kesetiaan kepada Gereja Katolik.


”CURI DOMBA” : Realitas Penyebrangan Umat Katolik ke Gereja Lain

Dalam masa penganiayaan terhadap Gereja Katolik di kerajaan Inggris... mungkin sebagian pihak akan berpikir... ya kalau harus pindah ke Anglikan, Yesusnya kan sama, hanya beda pimpinan gereja... dulu Sri Paus sekarang Raja Inggris... Tetapi bagi St. Thomas More dan martir-martir dari Inggris, mereka lebih rela mati menjadi martir demi iman kepada Kristus dan kesetiaan kepada Gereja Katolik.

Dewasa ini umat Katolik pun tetap menghadapi pilihan-pilihan, mungkin tidak sampai dihadapkan pilihan seperti yang dihadapi St. Thomas More... yang akhirnya memilih mempertaruhkan segala-galanya bahkan sampai mempertaruhkan nyawa...

Dan ketika menghadapi pilihan ini... Tidak sedikit yang setia berpegang teguh pada iman Katoliknya... Tetapi selalu ada realitas, orang akan meninggalkan iman Katoliknya demi kepentingan lain... Contoh yang paling sering terjadi : penyebrangan-penyebrangan ke denominasi/ sekte gereja lain…..

Secara pribadi, dari masa SMA sampai kuliah, paling sedikit ada sembilan teman yang saya kenal menyebrang ke gereja lain….. beberapa di antaranya kita sempat ‘ngobrol’ bareng, apa sih alasan menyebrang ke kelompok lain? Pada umumnya karena mulai meragu-ragukan kebenaran iman Katolik, sebagai akibat dari seringnya menghadiri pertemuan-pertemuan doa denominasi lain dan ‘tidak kuat’ menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang berisi serangan-serangan terhadap iman Katolik.

Memang Gereja Katolik selalu merindukan persatuan seluruh Gereja dan mendorong semangat ekumenisme, sebagai umat Katolik kita pun hendaknya mempunyai semangat yang sama. Tetapi dalam pelaksanaan, hendaknya betul-betul dipahami semangat ekumenisme yang benar dan sehat, serta tetap memperhatikan prinsip-prinsip ajaran iman Katolik.

Karena kenyataan yang kita hadapi sekarang ini, kita sering menghadapi sekte-sekte atau denominasi tertentu yang bersikap agresif dan selalu menyerang terhadap iman Katolik, bahkan juga di kalangan kelompok yang menyebut dirinya ekumene.

Seringkali mereka ini mempunyai strategi yang sama : pada awal mula mereka akan terus mengajak umat Katolik datang ke acara-acara di gereja mereka dengan alasan klise… “Kan Yesusnya sama, jadi sama saja kalau datang ke tempat kami”, dsb.
Dari sini akan terus berusaha mengajak, sampai akhirnya seringkali karena sungkan, keingintahuan, dsb; kita menanggapi undangan mereka. Nah, begitu mulai ‘rajin jajan’ kita akan mulai menghadapi, baik dalam kotbah ataupun pendekatan pribadi pertanyaan-pertanyaan yang bersifat menyerang terhadap iman Katolik : tentang Maria, para kudus, mendoakan arwah, api pencucian, Paus, Ekaristi, dsb… dsb…

Saya sendiri punya pengalaman pribadi, yaitu waktu SMA saya ditugaskan menjadi ketua persekutuan doa Katolik. Sekolah kami sekolah negeri, dan saya juga harus menghadapi hampir setiap hari saat jam istirahat, teman-teman yang aktif di kepengurusan persekutuan doa protestan… yang selalu terus-menerus mempersoalkan iman Katolik… saya juga menghadapi salah satu teman Katolik akhirnya pindah Gereja, karena serangan-serangan itu. Ketika saya coba untuk mendekati dia, malah dengan pahit dia merasa telah mengikuti gereja yang salah dan ikut-ikutan menyerang iman Katolik… Dihadapkan situasi ini, saya merasa perlu belajar tentang iman Katolik, puji Tuhan waktu-waktu itu mulai diterbitkan edisi pertama buku “Mempertanggungjawabkan Iman Katolik 1”, tulisan Rm. Pidyarto, O.Carm. Di sini saya bersyukur atas penyelenggaraan Tuhan, di balik serangan-serangan itu, Tuhan melindungi, bahkan membimbing saya untuk berusaha mempelajari dan memahami iman Katolik.

Fenomena yang terjadi di Indonesia ataupun di beberapa negara ini, agak berbeda dengan yang terjadi di beberapa negara barat. Beberapa tahun lalu, majalah TIME menerbitkan edisi dengan cover bergambar icon bunda Maria mengendong kanak-kanak Yesus, dalam edisi itu dibahas khusus “Mengapa pendeta-pendeta Protestan di USA mulai menemukan kembali iman untuk menghormati bunda Maria?”.

Kemudian kita lihat banyak tokoh-tokoh seperti Scott & Kimberly Hahn, David Cure (seorang pendeta fundamentalis menjadi Katolik), Marilyn Kramer, dsb… dengan latar belakang keinginan untuk mencari titik lemah dalam ajaran Katolik supaya mereka bisa lebih banyak lagi ‘mempertobatkan’ umat Katolik, mereka mempelajari iman Katolik dari dokumen-dokumen Gereja… sampai akhirnya mereka menarik kesimpulan ajaran iman Katolik sungguh-sungguh sesuai Kitab Suci dan mereka menemukan kebenaran dan wahyu Kristus yang sempurna ada dalam Gereja Katolik.

Fenomena lain, yaitu adanya saudara-saudari Protestan yang menemukan kembali kehidupan membiara sebagai suatu panggilan khusus untuk mempersembahkan seluruh hati dan hidup kepada Kristus. Selama berabad-abad Gereja Protestan menolak segala bentuk kehidupan biara. Tetapi salah satu tokoh Gereja Lutheran, Mother Basilea Schlink (1904-2001) digerakkan oleh Roh Allah untuk mendirikan biara suster Protestan yang dibaktikan ke dalam perlindungan bunda Maria, komunitas suster Protestan ini bernama “Evangelical Sisterhood of Mary”. Komunitas ini berdiri 30 Maret 1947 di Darmstadt, Jerman.

Kemudian yang terkenal, sebuah biara ekumene yang terdiri dari bruder-bruder Protestan dan Katolik, dimana mereka menghayati spiritualitas Fransiskan, yaitu komunitas Taize di Perancis. Didirikan oleh bruder Roger Schultz (1905-2005), seorang Protestan, yang terpanggil untuk mendirikan komunitas ekumene. Komunitas Taize ini sungguh komunitas ekumene yang ideal, walaupun berbeda antara Katolik dan Protestan, tetapi bruder-bruder ini bisa hidup berdampingan dalam damai dan kasih Kristus.

Sayangnya untuk situasi di Indonesia, dengan adanya denominasi yang agresif dan menyerang, situasi ekumene yang sehat dan ideal belum dapat terwujud... karena banyak umat Katolik yang menjadi korban “curi domba” dan terjadi penyebrangan-penyebrangan dari umat Katolik ke gereja lain sampai saat ini. Maka sebagai antisipasi, tindakan pencegahan/ preventif jauh lebih baik daripada kalau sudah terlanjur menyebrang.

Tindakan pencegahan itu dapat dilakukan dengan berusaha mempelajari dan mendalami iman Katolik sendiri, mengembangkan bidang ilmu apologetika, yaitu bidang ilmu yang berusaha mempertanggungjawabkan iman Katolik untuk menghadapi serangan-serangan itu.

Kemudian hal penting lainnya: menghindari pertemuan doa, seminar, pengajaran, KKR, dsb dari gereja lain. Demikian juga menghindari siaran-siaran televisi, radio atau bacaan buku-buku gereja lain, yang tentunya semua itu ada perbedaan teologi dan seringkali iman Katolik juga diserang (Kecuali untuk tujuan study tertentu yang dilakukan oleh orang Katolik yang sudah mempunyai pendasaran teologi Katolik dan untuk kepentingan pekerjaan, misalnya : persekutuan doa di kantor, dsb).

Menghindari pertemuan semacam ini tidak berarti umat Katolik tidak mempunyai semangat ekumene. Semangat ekumene tetap harus ada, tetapi sebatas misalnya kegiatan sosial karitatif secara bersama, atau perayaan-perayaan Natal atau Paskah bersama.

Kembali ke St.Thomas More, betapa kita sebagai umat Katolik dipanggil untuk sungguh-sungguh mensyukuri dan menghargai iman Katolik yang dianugerahkan Kristus kepada kita. Jika dia yang adalah perdana menteri, tetapi rela melepaskan jabatannya dan mati demi Kristus dan gereja Katolik, lalu siapakah kita ini ?!?
Santo Thomas More..... doakanlah kami. Amin (Effendy T)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar